Politik

Tuesday, 29 June 2021 - 21:58 WIB

11 months yang lalu

Siapa Pemimpin Papua Pada Era Modern Tahun 2024 ?

= Siapa Pemimpin Papua Pada  Era Modern Tahun 2024 =

Oleh : Ir. H. Okferiadi Rasyid, M.M ( Pengamat Politik dan Pembangunan Papua )

                                                            ( BAGIAN KE SATU / BERSAMBUNG )

         

Sebelumnya diawal tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa, saya nantinya juga akan mengupas sedikit tentang Prinsip Kepemimpinan masyarakat Wilayah adat Lapago, khususnya suku Dany, Papua. Tulisan tersebut bukan bermaksud mendikotomikan secara wilayah adat atau secara suku per suku, masyarakat Papua, tetapi tujuannya untuk menguraikan sejarah dan fakta mengenai Kepemimpinan di Tanah Papua.

Berdasarkan sejarah, mulai dari Papua bergabung ke dalam negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1969 hingga tahun 2013 lalu, orang Pegunungan Papua belum ada yang menjadi Gubernur di Provinsi Papua. Hampir selama lebih kurang 44 tahun, belum ada tokoh Pengunungan Tengah Papua yang menjadi Pemimpin Besar di Provinsi Papua.

Mari coba kita lihat kembali para pemimpin Papua, Zainal Abidin Syah 1956-1961, Pamoedji 1961-1963, Elias Jan Bonai 1963-1964, Frans Kaisiepo  1964-1973, Acub Zainal 1973-1975, Soetran 1989-1981, Busiri Suryowinoto 1981-1982, Izaac Hindom 1982-1988, Barnabas Suebu 1998-1993, Jacob Pattipi 1993-1998, Freddy Numberi 1998-2000, Jacobus Perviddya Solossa 2000-2005,  Andi Baso Bassaleng 2005-2006, Sodjuangon Situmorang 2006, Barnabas Suebu 2006-2011, Syamsul Arif Rivai 2011-2012, Constant Karma 2013, Lukas Enembe 2013-2024 ( Soedarmo 2018).

setelah Era Barnabas Suebu,  pada tahun 2013 barulah Lukas Enembe menang atas hasil akhir perhitungan Suara di lapangan dan dengan putusan Makamah Agung. Ini adalah awal kebangkitan masyarakat Pengunungan Tengah, khususnya dari Suku Dani yang memecah Mitos bahwa anak Koteka tidak bisa menjadi Gubernur di Papua. Sejak itulah mulai lahir para tokoh dan pemimpin besar Papua yang berasal dari Pegunungan Tengah Papua.

Lukas Enembe telah membuktikan bahwa masyarakat Pegunungan Tengah Papua, walaupun yang sering dianggap kuno dan tradisional, terbelakang, ternyata mampu untuk menjadi Pemimpin Papua. Kondisi inilah yang melecut semangat membara dari tokoh pemimpin muda Pengunungan Tengah untuk bisa berbuat yang terbaik seperti yang dilakukan oleh Lukas Enembe.

Dan berdasarkan pengamatan penulis, cukup banyak masyarakat Papua dari wilayah Pengunungan tengah yang saat ini berhasil menduduki berbagai jabatan Strategis baik di Pemerintahan Propinsi Papua, DPRP, Ormas Kepemudaan, Organisasi Keagamaan dan organisasi lainnya.

Kekompakan masyarakat Pegunungan Tengah Papua ini sangat Solid dan sejiwa, terbukti dari beberapa aksi belakangan ini ketika LE mengalami berbagai permasalahan dengan Pemerintah Pusat,  masyarakat Pengunungan Tengahlah, yang terbanyak dan mati-matian membela LE sebagai Pemimpin besar mereka.

Seorang TOKOH BESAR atau Pemimpin Besar Papua, tidak terlepas dari catatan Kinerja dan Prestasinya ketika dia menjabat. di Papua ada 2 golongan Tokoh Besar, yang Pertama: Tokoh Besar karena dia mempunyai dukungan masyarakat yang besar, tapi Prestasi dan Kinerja tidak baik. Yang Kedua : Tokoh besar  selain mempunyai massa pendukung yang banyak, prestasi kerjanya juga sangat baik dan bisa dilacak secara elektronik melalui Google.

Dalam Era Modern tahun 2024 nanti, Tokoh besar Papua yang tidak memiliki prestasi kerja yang baik, tidak bisa diandalkan untuk berkompetitif sebagai Wakil Gubernur ataupun Gubernur Papua.

Masyarakat Papua semakin cerdas dan dalam era keterbukaan Tekhnologi Informasi saat ini, bisa dengan mudah dilacak Tokoh besar Papua mana saja yang memiliki Prestasi dan Kinerja yang baik.

Penulis yang juga sebagai Pengamat Politik dan Pembangunan Papua, pada tahun 2021 ini mulai bermunculan banyak tokoh Papua yang sudah matang secara usia dan penaglaman yang memang sudah bisa menduduki jabatan sebagai Wakil Gubernur Papua (PAW) sampai tahun 2023 dan juga sebagai Gubernur Papua tahun 2024 sebagai penerus tongkat Estafet Kepemimpinan Lukas Enembe. Dalam tulisan ini, penulis akan mengupas seorang Pemimpin Besar Papua yang bernama KENIUS KOGOYA, S.P., M.Si. Mungkin secara kebetulan, Kenius Kogoya ini sama-sama  seperti Lukas Enembe berasal dari Pegunungan Tengah Papua, yang mempunyai gaya kepemimpinan yang sama serta hati dan jiwa yang sama untuk membangun Papua dan mensejahterahkan masyarakatnya.

Mari sedikit kita kupas, tentang kepemimpinan dan mengapa saat ini, para Pemimpin Besar Papua yang berprestasi dan berkinerja hebat banyak lahir dari Pengunungan Papua ?

Apakah seorang pemimpin dilahirkan atau dibentuk ?

Beberapa orang percaya bahwa para pemimpin sejati dilahirkan secara alami, memiliki jiwa karismatik, berpengaruh, dan menginspirasi orang-orang yang ditakdirkan untuk menorehkan prestasi.

Menurut Teori  Genetik, “pemimpin itu dilahirkan dan bukan dibentuk”  (Leaders are born and not made). Pandangan terori berpendapat bahwa, seseorang akan menjadi pemimpin karena “keturunan” atau ia telah dilahirkan dengan “membawa bakat” kepemimpinan. Teori keturunan ini,  dapat saja terjadi karena  seseorang dilahirkan telah “memiliki potensi” termasuk memiliki potensi atau bakat untuk memimpin, dan inilah yang disebut dengan faktor “dasar”.

Dalam realitas,  teori keturunan ini biasanya dapat terjadi di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja, karena orang tuanya menjadi raja maka seorang anak yang lahir dalam keturunan tersebut akan diangkat menjadi raja.

Dalam Konteks Papua, di Pegunungan Tengah, contohnya suku Dani adalah suku asli Papua yang cukup dikenal hingga ke seluruh penjuru dunia. Keberadaan suku ini sudah banyak diketahui, bahkan diteliti oleh berbagai pihak dari dalam dan luar Indonesia. Masyarakat suku Dani dikenal sebagai suku berperangai keras dan sangat menggemari peperangan.

Namun pada kenyataannya, Suku Dani adalah suku yang sangat ramah, memiliki banyak kemampuan dalam bidang seni, bahkan mereka sangat senang bernyanyi. Jadi, dibalik penampilannya yang keras dan menyeramkan, masyarakat Dani ternyata menyimpan banyak kelembutan. Keadaan alam dan adat serta lingkungan ikut membentuk masyarakat dari Pengunungan Tengah Papua menjadi Pemimpin yang hebat dan tangguh serta memiliki strategi Politik yang cerdas.

Setiap manusia yang dilahirkan didunia ini dari awal hingga akhir pada dasarnya adalah pemimpin, setidaknya dia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri.  Namun, pemimpin yang dilahirkan tanpa dibarengi pengalaman, pendidikan dan pelatihan kepemimpinan akan melahirkan pengikut yang cenderung mengkultuskan pemimpinnya serta ditakuti dan kurang disegani.

Pemimpin yang baik dan berkualitas adalah pemimpin yang memiliki keturunan pemimpin, memiliki bakat, pengalaman, serta pendidikan dan latihan kepemimpinan yang pernah diperolehnya.

Kepemimpinan dapat dipelajari oleh siapa pun yang memiliki dasar sebagai seorang pemimpin. Di satu sisi, banyak sekali unsur kepemimpinan yang tidak dapat diajarkan hal ini tentunya bisa didapatkan dari pengalaman seiring berjalannya waktu saat sudah menjadi seorang pemimpin.

Penulis mengamati, salah seorang Pemimpin Muda Papua yang merupakan “PERPADUAN” antara bakat alam dan juga pendidikan kepemimpinan modern saat ini ialah : Kenius Kogoya, S.P., M.Si. Kenius Kogoya adalah pemimpin yang memiliki startegi yang cerdas dalam berpolitik dan bekerja serta dengan karakter yang tenang, sabar, rendah hati dan dekat dengan masyarakatnya seperti karakter Presiden Joko Widodo.

Dengan jabatannya sebagai Sekretaris Umum KONI Papua dan pernah menjabat wakil Ketua KNPI Papua serta aktif di GIDI, Kenius Kogoya secara tidak langsung telah lama berguru dan ditempa oleh Lukas Enembe, agar bisa menjadi Pemimpin Hebat Papua disuatu hari kelak. Kenius Kogoya, memiliki gaya kepemimpinan Demokratis Modern yang sesuai dengan kondisi saat ini.

Gaya kepemimpinan demokratis dianggap paling baik dan efektif diterapkan dalam organisasi pemerintahn/Politik saat ini. Berbeda dari model autocratic yang memberi manajer kewenangan penuh dalam memutuskan segala hal, kepemimpinan demokratis melibatkan partisipasi anggota kelompok dalam pengambilan keputusan. Karena itu, democratic leadership juga disebut model kepemimpinan partisipatif.

Meski demikian, model ini tidak sama dengan kepemimpinan laissez-faire yang menyerahkan seluruh proses pengambilan keputusan di tangan kelompok. Dalam democratic leadership, pemimpin tidak sepenuhnya melepaskan proses pengambilan keputusan kepada anggota kelompok, melainkan ikut terlibat dengan mengawal dan mengendalikan proses. Selain itu, pemimpin juga tetap berperan dalam menentukan keputusan akhir.

Kepemimpinan demokratis memiliki tiga ciri utama:

Menerapkan pendekatan dua arah

Tidak seperti model autocratic yang menggunakan pendekatan satu arah dari atasan ke bawahan, gaya kepemimpinan demokratis menerapkan pendekatan dua arah dengan mendorong diskusi dan musyawarah. Pemimpin demokratis tidak memaksakan keputusan sepihak kepada tim, sekalipun ia punya wewenang dalam mengatur bawahan.

Untuk membuat keputusan, pemimpin demokratis mendengar suara setiap orang di kelompok. Anggota tim memiliki kebebasan untuk mengambil peran dalam diskusi, berkontribusi dalam setiap proses yang memungkinkan gagasan dipertukarkan, meski pada akhirnya pemimpin yang menentukan apa yang akan dipilih sebagai keputusan. 

Pemimpin demokratis membuat keputusan berdasarkan etika moral, norma, dan nilai mereka, yang akan memengaruhi pandangan setiap anggota tim yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Mendorong partisipasi dan keterlibatan

Ciri kedua dari gaya kepemimpinan demokratis adalah memberikan kesetaraan hak dalam menyampaikan pendapat, saran, dan kritik. Partisipasi kelompok merupakan bagian penting dalam proses itu sendiri, bukan pada hasilnya.

Dengan mendorong keterlibatan setiap orang dalam proses, kepemimpinan demokratis akan menaikkan motivasi tim dan meningkatkan loyalitas. Karena setiap suara didengar, anggota tim akan merasa dihargai dan dianggap penting, sehingga mereka bekerja lebih produktif.

Partisipasi dan keterlibatan kelompok membuat keputusan yang diambil pemimpin menjadi keputusan bersama, bukan keputusan satu orang. Dengan demikian, tingkat penerimaan keputusan dan dukungan dari anggota tim juga lebih besar.

Menghargai ide dan kreativitas

Karakter lain dari kepemimpinan demokratis adalah keterbukaan terhadap ide dan kreativitas. Pemimpin menempatkan diri bukan sebagai orang yang paling benar, dan sebaliknya tidak menganggap anggota tim sebagai pihak yang tidak berpengalaman atau tidak terampil.

Pemimpin partisipatif cenderung mencari opini dan gagasan yang beragam serta membuka semua kemungkinan. Mereka tidak membungkam suara-suara yang tidak setuju atau anggota tim yang memiliki sudut pandang yang berbeda.

Pemimpin demokratis tidak menjadikan dirinya semakin menonjol dan dominan, dan mengerdilkan anggota kelompok. Sebaliknya pemimpin membangun tim yang kuat, yang dapat diandalkan dalam proses pengambilan keputusan berkualitas dan efektif.

Pemimpin yang demokratis memiliki karakter jujur, cerdas, berani, kreatif, kompeten, dan adil. Karakter inilah yang menjadikan pengikutnya memiliki kepercayaan, rasa hormat, dan kesediaan untuk terlibat dan berkontribusi dalam pengambilan keputusan. ( BERSAMBUNG )

 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 545 kali

Baca Lainnya