Pemerintahan Politik

Saturday, 21 August 2021 - 18:34 WIB

9 months yang lalu

Pemimpin Muda dalam Pemerintahan

Baru-baru ini, Indonesia kedatangan tamu salah satu menteri paling muda dari negara tetangga Malaysia, Syed Shaddiq yang dipercayai memegang posisi Kementerian Pemuda dan Olah Raga di saat baru menginjak usia 25 tahun. Di saat kaum muda kita mungkin hanya sibuk bernarsis ria dan mengkritik tanpa solusi, anak muda negara tetangga sudah berpikir berkontribusi nyata. Sangat muda dan segar dalam struktur pemerintahan baru Perdana Menteri Mahathir Muhammad.
Ada yang menarik dari terpilihnya kembali Mahathir Muhammad sebagai Perdana Menteri Malaysia. Bukan karena faktor usianya yang hampir mencapai satu abad, tapi lebih karena keberanian dan kepercayaannya terhadap generasi penerus bangsa, kaum muda. Sang Perdana Menteri mengangkat dua menteri yang tergolong sangat muda. Selain Syed Shaddiq, ada pula perempuan muda yang juga dilantik menjadi menteri bernama Yeo Bee Yin.
 

Tidak tanggung-tanggung, dia mengurusi Kementerian Bidang Tenaga, Teknologi Sains, Perubahan Iklim dan Alam Sekitar. Kira-kira kalau kita bandingkan dengan kementerian di Indonesia, hampir serupa dengan Kementerian Riset dan Teknologi, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Mengejutkannya lagi, bukan saja karena dari segi usia mudanya, jika di bandingkan dengan menteri di Indonesia –hampir berbeda 2 kali lipat– tapi lebih menyoroti kepercayaan peran jabatan yang berpengaruh besar dalam tataran kemajuan peradaban bangsa di masa depan.

Ini membuktikan, estafet transformasi kepemimpinan telah terjadi di Malaysia. Walaupun, kita mesti akui, pemimpin puncaknya belum terlihat berubah. Namun, realitas dalam mempercepat tenaga lokomotif pemerintahan agar lebih berani, gesit, dan progresif, Sang Perdana Menteri sepertinya sadar akan kekuatan kaum muda tersebut. Pertanyaannya, bisakah di Indonesia ini diadaptasi ?
 
Pemimpin Besar Papua, Lukas Enembe juga menyadari bahwa di Papua akan terjadi estafet kepemimpinan di tahun 2024 nanti. Oleh karena itu, dalam salah seorang calon wakil Gubernur Papua, Lukas Enembe memilih salah seorang calon pemimpin besar Papua dari yang berusia muda. Apakah pemimpin muda akan langsung diarahkan untuk langsung menjadi Wakil Gubernur Papau ataukan Lukas Enembe akan membiarkan Sang calon pemimpin muda itu “bertarung” diajang pemilihan Wakil Gubernur Papua Pergantian Antara Waktu itu.
Lebih jauh lagi, dalam skala global, DNA pendobrak dari kaum muda ternyata juga sudah menjadi terobosan dalam struktur pemerintahan. Belum lama ini, bagaimana seorang pemuda berusia 27 tahun menjadi Menteri Urusan Luar Negeri Austria yang bernama Sebastian Kurz, dan saat ini telah memegang tampuk kepala pemerintahan termuda, saat ia baru menginjak usia 31 tahun.
 
Tidak kalah fenomenalnya, seorang perempuan bernama Shamma Al Mazrui dari negara federasi Uni Emirat Arab mengemban amanat pejabat Menteri Pemuda pada usia 22 tahun! Masih ada beberapa tokoh pemerintahan negara lain yang juga tak kalah terbukanya terhadap generasi muda yang dahulu pernah dipercaya memegang posisi strategis. Misalnya, Yuko Obuchi (34 tahun) dari Jepang dan Kristina Schroader (33 tahun) dari Jerman. Dan, belakangan Presiden Prancis, Macron (39 tahun).
Jika telah demikiannya banyaknya estafet kepemimpinan bergulir kepada kaum muda, mengapa bangsa kita Indonesia sepertinya enggan memberikan kesempatan? Begitu tidak profesional dan tidak pantaskah kaum muda dalam memajukan bangsa? Ataukah, generasi tua kita terlalu takut kehilangan pengaruhnya? 
 
Khususnya dalam Bidang Pemerintahan Daerah, Provinsi Papua saat ini yang sedang melakukan pemilihan untuk wakil Gubernur Papua, juga memunculkan 2 calon pemimpin. Pemimpin muda diwakili oleh Kenius Kogoya, S.IP., M.H, sedang dari kalangan generasi tua, diwakili oleh Dr. Yunus Wonda, S.H, M.H.
 
Kenius Kogoya adalah seorang Pemimpin muda yang lahir dan dididik secara khusus oleh Lukas Enembe selama bertahun-tahun dalam berbagai jabatan diberbagai bidang oragnisasi dan juga pemerintahan. Bahkan bisa dikatakan bahwa Kenius Kogoyalah satu satunya Pemimpin Muda Papua yang benar-benar siap untuk memimpin Papua di tahun 2024 nanti.
 
Jika kita cermati kembali negara tetangga kita Malaysia, entah kebetulan atau tidak, usia masyarakat di negara tersebut saat ini juga lebih didominasi kaum muda. Tepatnya, generasi muda yang berusia 28 tahun. Tentu saja ini berbanding lurus dengan jumlah pemilih. Mungkin inilah salah satu alasannya, Malaysia sangat terbuka dengan pemimpin dari generasi muda.
Di Indonesia sendiri telah terjadi perubahan struktur kependudukan yang menciptakan ledakan usia produktif (15 tahun-64 tahun) yang separuhnya, pada puncak bonus demografi pada 2030 akan menciptakan sekitar 180 juta jiwa usia produktif. Karena, itu, dominasi Pemilu Presiden 2019, peran usia produktif khususnya kaum muda yang berusia 17 tahun sampai 35 tahun berkisar 100 juta jiwa dari sekitar 196 juta lebih pemilih. Inilah kesempatan besar para pemimpin bangsa untuk memanfaatkan daya ungkit kaum muda dalam kancah pemerintahan untuk menopang pembangunan nasional.

Melihat permasalahan bangsa kita yang kian kompleks dan menantang, sudah saatnya pemerintah berkolaborasi dan memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk duduk sebagai policy maker. Langkah strategis tersebut dengan membuka sebuah kesempatan jabatan menteri yang dipercayakan kepada generasi muda. Paling tidak pemerintah memberikan jabatan strategis di struktur pemerintahan agar lebih memahami psikologi kaum muda yang kini sangat berbeda akibat gelombang inovasi teknologi. Cara berpikir dan budayanya tentu memiliki tantangan tersendiri. Dibutuhkan figur dengan profil yang hidup di era yang sama, sehingga nantinya pemecahan dan pengelolaan permasalahan lebih selaras dan efektif.
 

Apalagi, sejarah telah membuktikan kaum muda memiliki peran krusial dan hal tersebut kini juga telah banyak diterapkan di negara lain. Lalu, mengapa tidak mencobanya? Jika solusi tersebut memiliki risiko, hal tersebut merupakan hal yang lumrah. Di belahan bumi mana kebijakan atau keputusan tidak memiliki risiko? Perubahan besar tentu memiliki risiko. Ada konsekuensi dalam menerima hasilnya. Tapi, kalau tidak dilaksanakan sekarang, sampai kapan bangsa ini menunggu gebrakan dari kaum muda?
Eksistensi kaum muda perlu diakui dengan memberikan kepercayaan dan kesempatan. Tentu saja dengan regenerasi tersebut bukan berarti tokoh pemimpin yang lebih senior akan kehilangan muka, namun terbuka kemungkinan menjadi mentor atau partner karena memiliki jam terbang pengalaman berbeda. Bukankah Bung Karno pernah berpesan, beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia?
 

Membolak-balik lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia, kita akan senantiasa menemui kisah-kisah perjuangan hebat yang dimotori kaum muda. Bermula dari gerakan Kebangkitan Nasional Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), Perjuangan Kemedekaan Indonesia (1945), menumbangkan rezim Orde Lama (1966), peristiwa Malari (1974), sampai penurunan paksa rezim Orde Baru (1998). Dalam peristiwa-peristiwa tersebut, peran pemuda mengambil posisi yang sangat penting.

Misalnya kita dapat menyerap energi muda dari para pahlawan bangsa seperti Soekarno, KH. Wahid Hasyim, Mohamad Natsir, Tan Malaka, Sjahrir, dan lainnya. Kepemimpinan mereka dimulai sejak usia sangat muda. Pekikan revolusi mereka gaungkan ke berbagai penjuru negeri hanya demi satu kata; merdeka dan berdikari. Bahkan pahlawan nasional yang lain seperti KH. Hasyim Asy’ari maupun KH. Ahmad Dahlan juga mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam usia yang relatif muda. Di usia 20-an atau 30-an, para tokoh-tokoh besar tersebut sudah mengabdikan dirinya bagi perjuangan bangsa.

Maka, tidak salah jika muncul anggapan bahwa perubahan besar dalam sebuah negara atau bangsa dimulai dari kalangan muda. Semangat muda adalah semangat perubahan, aktif, energik, penuh spirit, kreatif, visioner, pekerja keras, serta mempunyai nilai positif bagi kemajuan bangsa.

Maka, semangat positif yang melekat pada anak muda dalam setiap zaman harus tetap diwarisi oleh generasi milenial era sekarang. Termasuk juga semangat positif untuk terlibat aktif dalam politik. Sebab, dunia politik adalah dunia pengabdian dan medan perjuangan untuk menciptakan kebangkitan bagi bangsa di segala bidang. Politik merupakan arena untuk menyalurkan aspirasi dan memperjuangkan aspirasi tersebut agar terwujud dalam bentuk kebijakan pemerintah.

Untuk mempersiapkan Estafet kepemimpinan daerah di Papua, akan sangat ideal sekali jika Lukas Enembe membantu memberikan Jam terbang kepada Kenius Kogoya sebagai pemimpin muda Papua. Dengan menjadi wakil Gubernur Papua PAW selama 2 tahun, akan cukup untuk mematangkan kepemimpinan Kenius Kogoya ditahun 2024 nanti. Karena tahun 2024 adalah tahun era modern Papua yang segala kondisi dan tantangan untuk mebangun Papua akan lebih berat. 

Apabila generasi muda di zaman dahulu berjuang demi bangsa dan tanah air dengan mengangkat senjata di medan perang menghadapi Belanda maupun Jepang, generasi muda saat ini juga harus tetap berjuang demi bangsa dan negara dengan cara yang berbeda. Perang fisik dan senjata telah usai, namun perjuangan untuk memajukan bangsa harus tetap berjalan. Salah satu jalan atau instrument perjuangan membangun bangsa di era milenial ini adalah melalui jalur politik. Makna dari kalimat “pemimpin muda bisa menggunakan politik sebagai jalur perjuangan,” adalah anak-anak muda milenial tidak boleh apatis terhadap politik. Mereka harus peduli dan selalu update dengan isu-isu politik terkini. Dengan kata lain, anak muda sekarang tidak boleh lagi malas atau bahkan benci politik.

Apalagi, dengan peduli (aware) dengan isu-isu politik kita bisa belajar banyak hal. Misalnya, belajar mengenai kepemimpinan (leadership), kerja tim dalam organisasi (team work), kolektifitas (kesetiakawanan), pentingnya memagang teguh prinsip/nilai perjuangan (ideologi), belajar berkomunikasi dengan publik (teknik lobi dan negosiasi), maupun belajar untuk secara cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, dan sebagainya. Maka dari itu, sudah saatnya anak-anak muda zaman now mengambil tanggung jawab dan peran positif dalam berkontribusi terhadap perbaikan sistem politik di Indonesia maupun di daerah.


Pemimpin besar Papua Lukas Enembe, seorang pemimpin yang Visioner, yang sangat mengetahui akan berbagai perubahan perkembangan dunia. Lukas Enembe menyadari bahwa tahun 2024, Papua harus dipimpin oleh seorang Putera Muda Terbaik Papua yang telah teruji Kinerja dan Kecintaannya kepada OAP serta siap bekerja keras dan bekerja cerdas. Demi Papua dan demi pembangunan Papua berikutnya, Lukas Enembe  ingin memberikan tongkat estafet kepemimpinan Papua berikutnya kepada pemimpin yang benar-benar siap dan juga bertypikal kepemimpinan Modern. Dasar-dasar Pondasi Pembangunan Papua telah sangat bagus dibangun oleh Lukas Enembe selama 2 Periode kepemimpinannya. Kini saatnya pemimpin Muda Papua yang telah dipersiapkan itu ( Kenius Kogoya ) untuk bisa menyerap sebanyak mungkin ILMU dan PENGALAMAN Lukas Enembe selama memimpin Papua. Dan alangkah sangat tepat jika Kenius Kogoya bisa berhasil Wakil Gubernur Papua, bisa belajar sambil terjun langsung melaksanakan tugas dan perintah Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua.

Direktur Program Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Sirajudin Abbas mengingatkan partai-partai politik untuk membidik pemilih muda pada Pemilu 2024 karena jumlahnya mayoritas. Berdasarkan pendataan data pemilih yang dilakukan SMRC, pemilih berusia 17-38 tahun mencapai 55 persen dari jumlah total pemilih pada Pemilu 2024. ( RS )

.

Artikel ini telah dibaca 550 kali

Baca Lainnya