Kabupaten Yalimo KETAHANAN PANGAN

Sunday, 7 November 2021 - 12:35 WIB

1 year yang lalu

Dr.Nahor Nekwek, S.Pd., M.M : KETAHANAN PANGAN Dan PEMBANGUNAN PROVINSI PAPUA PEGUNUNGAN

                  KETAHANAN PANGAN DAN PEMBANGUNAN PAPUA PEGUNUNGAN

                                                  Oleh Dr,Nahor Nekwek, S.Pd., M.M ( Bupati Kabupaten Yalimo )

 

 

Untuk mengantisipasi krisis pangan dunia, ketahanan pangan menjadi perhatian utama pemerintah. Masalah ini juga akan menjadi isu penting dalam krisis kali ini, baik dalam skala nasional maupun di beberapa daerah yang rentan. Sebagian besar daerah dengan tingkat kekurangan gizi yang tinggi saat ini diyakini disebabkan oleh kekurangan pangan pada krisis
lalu. 

Untuk Program Ketahanan Pangan tingkat nasional, Presiden Jokowi telah bertindak cepat, Presiden Jokowi menunjuk Menteri Pertahanan Prabowo Subianto untuk menjadi ing sector pengembangan lumbung pangan nasional. Hal ini karena ini menyangkut cadangan strategis pangan kita, ing sector-nya Menhan, dan Prabowo Subianto selaku ing sector akan didukung oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

Sebelumnya, Food and Agriculture Organization/FAO atau Badan Pangan dan Pertanian PBB memperingatkan mengenai potensi terjadi krisis pangan sebagai dampak dari pandemi corona. Peringatan FAO ini yang membuat Presiden Jokowi meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan para kepala daerah untuk menjaga ketersediaan bahan pokok. Jokowi berharap tak terjadi kelangkaan yang membuat harga pangan melonjak baik dala jangka pendek maupun jangka panjang. 

FAO meminta setiap negara yang sedang mengatasi penyebaran virus corona juga menjaga kelancaran rantai pasokan makanan. Rantai pasokan makanan ini melibatkan interaksi yang kompleks, seperti di sektor pertanian melibatkan petani, benih, pupuk, anti-hama, pabrik pengolahan, pengiriman, pengecer dan lainnya. Jaringan yang kompleks juga terdapat sektor peternakan dan perikanan.

Pemerintah Pusat telah membangun Ketahanan Lumbung Pangan untuk wilayah Indonesia bagian barat/ Food Estate Ketahanan Pangan di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara di lahan seluas 30.000 hektare (ha).  Komoditi pangan yang ditanam anatara lain kentang, bawang merah, dan bawang putih di lokasi yang akan menjadi lahan pertanian modern berbasis hortikultura di Propinsi Sumatera Utara itu.

Pemerintah Pusat telah membangun Ketahanan Lumbung Pangan untuk wilayah Indonesia bagian Tengah, program Food Estate di Kalteng merupakan upaya Pemerintah untuk meningkatkan Produksi Pangan. Food Estate di Kalteng merupakan sebuah konsep pengembangan produksi pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, peternakan dan Perikanan yang berada di suatu kawasan lahan yang sangat luas (Skala Ekonomi). Lokasi Food Estate di Provinsi Kalteng tepatnya di Kabupaten Pulang Pisau dan Kapuas merupakan kawasan aluvial pada lahan Eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG).

Food Estate diharapkan akan memberikan banyak manfaat secara langsung atau tidak langsung, antara lain dapat meningkatkan nilai tambah produksi sektor pertanian lokal, meningkatkan penyerapan tenaga kerja pertanian hingga 34.4%, harga pangan lebih murah dengan produksi yang melimpah dan terbukanya potensi ekspor pangan ke Negara lain. Selain lahan untuk padi seluas 168.000 hektare (ha) di Kalimantan Tengah, nantinya sejumlah tanaman lain seperti jeruk, kelapa, dan bawang merah akan ditanam di kawasan tersebut.


Pemerintah Pusat belum membangun Food Estate Ketahan Pangan untuk wilayah Indonesia Timur, Papua Pegunungan adalah lokasi yang tepat untuk pembangnan kawasan Lumbung Pangan Indonesia Timur itu. Masyarakat Papua Pegunungan mempunyai keunikan jenis makanan pokoknya yaitu,  masyarakat Papua yang bermukim di wilayah gunung akan lebih sering bercocok tanam dan beternak babi, sedangkan masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir akan lebih sering memancing ikan laut.

Maka dari itu, makanan pokokpun beragam dan bergantung pada wilayah tinggalnya. Masyarakat yang tinggal di pesisir dan punya akses ke wilayah hutan hujan mungkin lebih mudah untuk memancing ikan serta mengumpulkan dan mengolah sagu yang menjadikan kedua mata pencaharian tersebut sebagai makanan pokok mereka. Sedangkan, masyarakat yang tinggal di pegunungan atau dataran tinggi mungkin lebih mudah untuk beternak hewan (babi, ayam) dan bercocok tanam (ubi jalar, singkong, kentang) yang juga menjadikan mata pencaharian tersebut sebagai makanan pokok mereka.

Masyarakat Provinsi  Papua Pegunungan beserta Pemerintah Provinsi harus memperjuangkan ke Pemerintah Pusat bahwa Food Estate Ketahanan Pangan untuk wilayah Indonesia timur juga bisa dibangun di Papua Pegunungan. Karena hal itu akan menjamin ketersediaan pangan untuk masyarakat wilayah timur Indonesia umumnya dan wilayah Papua khususnya. 

Pemerintah menyiapkan lahan seluas 15 ribu hektare untuk lumbung pangan (food estate) di Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk tahap awal, pemerintah menyiapkan 5.000 hektare yang akan ditanami padi dan jagung. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan lahan seluas 3.000 hektare akan ditanami padi. Lalu, lahan seluas 2.000 hektare akan ditanami jagung.

“Tapi ke depan diperluas lagi dengan luasan 10 ribu hektare, dibagi 5.600 hektare buat padi dan 4.400 untuk jagung,” ucap Jokowi dalam Keterangan Pers Presiden Setelah Meninjau Food Estate di Kabupaten Sumba Tengah, Selasa (23/2).

Jokowi menyatakan pemerintah sengaja memilih Kabupaten Sumba Tengah sebagai salah satu kawasan food estate karena 34 persen kemiskinan berada di wilayah tersebut. Selain itu, panen hanya terjadi satu kali dalam satu tahun di Kabupaten Sumba Tengah.

“Panen yang ada di Sumba Tengah masih satu tahun baru sekali, yaitu padi. Kami ingin mengelola agar satu tahun bisa dua kali panen padi dan sekali panen jagung atau kedelai,” ujar Jokowi. Menurut Jokowi, ada masalah yang menghambat panen di NTT, yakni aliran air. Untuk itu, pemerintah setempat sudah membangun sumur bor pada 2015 dan 2018 yang langsung masuk ke sawah.

“Juga beberapa embung besar sudah dibangun tapi masih jauh dari cukup, masih kurang. Pak Gubernur diminta buatkan satu bendungan di Kabupaten Sumba Tengah dan sekitarnya,” tutur Jokowi.

Ia sudah memerintahkan langsung ke Menteri PUPR Basuki Hadimuljono atas permintaan dari NTT. Jokowi ingin Basuki melihat kemungkinan dibuatnya waduk atau bendungan di Kabupaten Sumba Tengah.

“Diikuti Kementerian Pertanian membantu kekurangan traktor, di sini sangat dibutuhkan sekali,” kata Jokowi.

Jika food estate di Kabupaten Sumba Tengah ini berhasil, ditambah dengan food estate di Sumatra Utara dan Kalimantan Tengah, maka Jokowi optimistis tercipta ketahanan pangan yang kokoh di Indonesia. Nantinya, keberhasilan pembangunan food estate di tiga wilayah itu bisa jadi contoh untuk pembangunan di provinsi lain.

 

 
 

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 58 kali

Baca Lainnya