Politik

Saturday, 10 July 2021 - 12:33 WIB

10 months yang lalu

Mengenal Pemungutan Suara Sistem Noken di Papua, Oleh : Kenius Kogoya, S.P., M.Si

Dalam sistem Politik Papua, ada satu sistem yang sangat unik dan tidak terdapat didaerah lainnya di Indonesia. yaitu sistem Noken. Sistem Noken Adalah cara pemungutan suara di Tanah Papua yang sudah lama diakui Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai kearifan lokal Papua, Ada dua pola sistem noken yang biasa digunakan masyarakat di Pegunungan Tengah Papua.

Pertama, pola Bigman, di mana pemberian suara diserahkan atau diwakilkan kepada ketua adat.

Kedua, pola Noken gantung, di mana masyarakat dapat melihat suara masuk ke kantong partai yang sebelumnya telah disepakati. Pola kedua ini dipakai dalam Pemilihan Umum Legislatif 2018.

Dalam kedua jenis sistem noken, prinsip bebas dan rahasia tidak berlaku. Dalam pola Bigman warga sepenuhnya menyerahkan pilihan kepada pemimpin sebagai ekspresi ketaatan. Terkait pemimpin Sistem noken berkaitan langsung dengan para pemimpin tradisional. Dalam rangka penelitian antropologi, saya pernah beberapa kali berkunjung ke Pegunungan Tengah Papua.

Tipe pemimpin pada masyarakat Pegunungan Tengah adalah yang dalam antropologi disebut tipe Bigman dalam bahasa lokal “Menagawan” artinya lebih kurang ’orang berwibawa’. Orang berwibawa meraih status sebagai pemimpin bukan karena warisan. Ini adalah pencapaian status, yang diraih atas dasar perilaku, tindakan, dan usaha memenangkan persaingan dengan orang-orang lain atau lawan yang menjadi pesaing.

Karena status orang berwibawa ditentukan oleh perilakunya, usaha untuk memenangi persaingan membuat posisinya penuh risiko. Ia harus pandai merangkul para Bigman lain, membagi wewenang dengan mereka, dan menyumbangkan harta, waktu, dan energinya untuk kepentingan orang banyak. Seorang Bigman yang acap dianggap pemimpin perang dinilai hebat bilamana ia menyejahterakan rakyatnya, bukan terus-menerus mengobarkan perang.

Adalah keliru mengatakan seorang bigman yang baik yang sering mengobarkan perang. Justru sebaliknya, bigman yang baik adalah yang memiliki kemampuan mengubah musuh menjadi sekutu. Bigman adalah orang bijak dan karena itu jadi panutan dan ditaati komunitasnya. Di Papua, seorang pemimpin di sebuah kampung belum tentu dianggap pemimpin di kampung lain.

Seorang pemimpin lintas kampung bahkan lintas Wilayah Adat adalah pemimpin yang mampu berdiplomasi dengan pemimpin kampung lain dan menjalin persekutuan, menghormati wewenang, dan pantang mempermalukan pemimpin lain. Kepiawaian diplomasi serta membina persekutuan menjadikan seorang Bigman disegani oleh beberapa Bigman lain.

Dalam kepemimpinan bobot – Big Man, memiliki 4 kecenderungan gaya pokok dalam kepemimpinan mereka :

1. BIG MAN Directive Leadership
Kecenderungan ini merupakan gaya kepemimpinan politik bobot – big man yang mengarahkan tentang apa dan bagaimana melaksanakan tugas atau sistem bermain kain timur itu berjalan dengan lancar.

2.BIG MAN Supportive Leadership
Merupakan gaya kepemimpinan politik bobot – big man yang berfokus pada kebutuhan dan kenyamanan rakyatnya dan menciptakan sistem kekerabatan ya ng nyaman.

3. BIG MAN Achievement and Oriented Leadership
Kecenderungan kepemimpinan politik bobot-big man dengan gaya kepemimpinan yang menekankan pada target – target keberhasilan dan meyakinkan keluarga kerabat tentang kemampuannya.

4. Participative BIG MAN Leadership
Gaya kepemimpinan politik bobot – big man yang suka mengkonsultasikan, menunjukkan sarang atau ide – ide pada keluarga klen sebelum mengambil keputusan.

Asal-usul perkembangan konsep Pria Berwibawa/Big Man di Tanah Papua.
Konsep pria berwibawa atau Big Man yang di gunakan oleh para ahli antropologi untuk menamakan para pemimpin politik tradisional di daerah – daerah kebudayaan Oseania, khususnya di Melanesia, sesungguhnya berasal dari terjemahan bebas terhadap istilah-istilah lokal yang digunakan oleh penduduk setempat untuk menamakan orang-orang penting dalam masyarakatnya sendiri.

Karangan yang membahas sejarah pemakaian konsep tersebut, di tulis oleh L. Lindstrom (1981:900-905), menunjukkan bahwa sejarah perkembangan kata Big Man dari vokabuleri sehari-hari menjadi konsep ilmiah mengalami suatu peoses yang lama. Selama abad ke-19 dan sampai pertengahan abad ke-20, para peneliti di daerah kepulauan Melanesia selalu menggunakan konsep chief, penghulu atau kepala suku, untuk menamakan para pemimpin pada masyarakat yang mereka deskripsikan.

Konsep chief itu kemudian tidak digunakan lagi oleh karena makna yang terkandung di dalam konsep tersebut tidak tercermin dalam system kepemimpinan banyak masyarakat di Melanesia dan di gantikan dengan berbagai konsep lain, misalnya influential man (Powdermarker 1944:41), Head Man (Williams 1936:236; Hogbin 1952: Index; 1964:62; Belshaw 1954: 108; Pospisil 1963:48), Center Man (Hogbin 1939:62), strong Man (Bendt 1969:335; Du Toit 1975:385), manager (Burridge 1969:38, 1975; Scheffler 1965:22), magnate (Chowing and Goodenough 1965-66:454), Direktor atau executive (Salisbury 1964:236), dan tentusaja big man. Pada tahun 1950-an dan 1960-an, terjadi persaingan antara istilah-istilah tersebut untuk mendapat tempat dalam khazanah istilah ahli antropologi dan dalam situasi persaingan itulah lambat laun muncul istilah big man sebagai konsep tipikal antropologi yang diterima secara luas untuk menandakan suatu tipe atau sistem kepemimpinan yang ciri-ciri dasarnya berlawanan dengan ciri-ciri dasar pada sistem kepemimpinan chief.

Konsep big man sendiri sebenarnya sudah digunakan lama sebelumnya, misalnya oleh M. Mead, dalam karyanya, sex and Temperament in Three Primitive Societies (1935:326), namun peralihannya dari bahasa umum (common parlance) menjadi bahasa antropologi sangat lamban. Konsep tersebut baru menjadi konsep resmi dan dimuat dalam lexikon antropologi melalui karya M.D. Sahlins, yang terkenal dan selalu dikutip itu, “Por Man, Rich Man, Big Man, Chief” (1963) dan kemudian diperkuat oleh K. Burridge, melalui karyanya, “The Melanesian Manager”, yang dipersembahkan untuk mengenang seorang tokoh antropologi politik E.E. Evans-Pritchard (1975:86-104).

Artikel ini telah dibaca 152 kali

Baca Lainnya