Lukas

Friday, 30 December 2022 - 14:59 WIB

1 month yang lalu

Lukas Enembe, Sang Pemimpin Besar Papua Yang Inspiratif, Berani dan Kharismatik

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat, dan pada tanggal 27 Desember 2022 ini adalah hari jadi provinsi Papua yang ke 73, yang bertepatan dengan 4 tahun periode ke 2 masa kepemimpinan Bp. Lukas Enembe, S.IP., M.H sebagai Gubernur Provinsi Papua. Seorang tokoh muda Papua, Dr. Kenius Kogoya, S.P., M.Si ketika dimnta pendapatnya oleh tim redaksi EBPN.com tentang Sosok Lukas Enembe sebagai Pemimpin Papua mengatakan bahwa, kinerja dan terobosan yang telah dicapai oleh Bp Lukas Enembe sebagai Gubernur Papua sampai saat ini bisa dikatakan Fenomenal dan kerja yang briliyan.

Kenius Kogoya menyatakan bahwa sebahagian besar masyarakat Papua menilai sosok Lukas Enembe sebagai sorang Pemimpin Besar Papua yang Inspiratif, Visioner Pekerja Keras, Berani dan Kharismatik, Lukas Enembe adalah peletak pondasi dasar peradaban baru orang asli Papua dan sudah layak diberikan Gelar BAPAK PEMBANGUNAN PAPUA seperti yang telah diberikan oleh IDM Institute Jakarta,  yang juga sekaligus sebagai suatu bukti pengakuan keberhasilan Kinerja Bp. Lukas Enembe sekaligus mengangkat Harkat dan Martabat orang Asli Papua dimata masyarakat Nasional Indonesia.

Keberhasilan-keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan oleh Bp. Lukas Enembe sangat banyak sekali, mulai dari melindungi Orang Asli Papua akibat Miras, Memberikan fasilitas Pendidikan dan Kesehatan untuk orang asli Papua, Menjaga kerukunan antara Suku, Ras dan Agama di Tanah Papua, juga membangkitkan Olah Raga Tanah Papua dengan Venue-venue yang berstandar Internasional. Termasuk membangun gedung-gedung Megah yang baru pertama berdiri di tanah Papua. Semua itu menjadi Inspirasi bagi generasi muda, agar bisa untuk membangun Papua lebih baik lagi kedepannya.

Dr. Kenius Kogoya, S.P., M.Si menuturkan, ada beberapa Peristiwa Bersejarah dan bahkan monumental akan yang ditorehkan dengan tinta emas oleh Bp. Lukas Enembe, S.IP., M.H pada hari HUT Provinsi Papua ke 73 ini, yaitu peresmian:

1. Kantor Gubernur  Papua 9 lantai struktur bangunan akan bernuansa Arsitektur Lokal  dan rendah karbon.

2. Kantor MRP 15 lantai 

3.Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua 

4. Kantor Biro Pengadaan Barang dan Jasa (BPBJ) Papua, Samsat Keerom, Supiori, dan Paniai Gedung Balai Labkesda Dinkes Provinsi Papua, Bangsal Bedah RSUD Paniai, Pelabuhan Keppi Kab. Mappi  Dan Gedung Pelayanan RSUD Kabupaten Jayapura.

Menurut Kenius Kogoya, Gubernur Lukas Enembe menceritakan, kantor Gubernur Papua, Kantor DPRP, Kantor MPRP, Kantor KPU, Kantor Unit Layanan Pengadaan akan menjadi sebuah bangunan yang monumental. Selain itu, keberadaan gedung ini juga akan membuat Kota Jayapura sebagai kota termodern di kawasan Pasifik. Dikatakan Gubernur, keputusan merenovasi kantor Gubernur Papua ini didasari keinginan dirinya untuk membuat perubahan besar di Papua pada periode kedua kepemimpinannya. Lukas berharap gubernur Provinsi Papua selanjutnya harus siap dan memiliki visi yang bagus untuk membangun Papua.

Tunjukan bahwa Kota Jayapura dan Papua ini adalah pintu masuk kawasan Pasifik termodern, Gubernur Enembe menyampaikan, adapun biaya renovasi gedung kantor Gubernur Papua nantinya bersumber dari dana Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SILPA) APBD Provinsi Papua.

Kenius Kogoya lalu menambahkan, mari kita flashback kembali kebelakang tentang konsep dan program pembangunan yang dicanangkan Bp. Lukas Enembe ini dibagi dalam beberapa fase, Selama empat tahun kepemimpinannya di Bumi Cenderawasih, Gubernur Papua Lukas Enembe dinilai oleh masyarakat Papua telah  sangat berhasil melakukan sejumlah keberhasilan pembangunan, baik dibidang pendidikan, kesehatan, perekonomian rakyat dan infrastruktur. Oleh karenanya, di sisa setahun masa kepemimpinannya, Gubernur Lukas Enembe mencanangkan pembangunan yang dilaksanakan tersebut, merupakan fase menuju kesejahteraan.

Adapun tiga fase yang telah dilalui pemerintah provinsi Paua dalam perjalanan empat tahun, yaitu :

Fase pertama, membangun pondasi atau menata masa depan Papua. Kemudian fase kedua memperkuat kemandirian dalam mewujudkan kesejahteraan, serta fase ketiga memantapkan kemandirian guna mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Hasil pelaksanaan ketiga fase ini, lanjut Gubernur, telah berhasil membawa gerakan bangkit, mandiri dan sejahtera menuju pada keberhasilan pembangunan, yang diantaranya semakin meningkatkannya rasa aman, tentram dan nyaman bagi seluruh masyarakat.

Dilain pihak, kian meningkatnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Serta penerapan e-government, yang mana hal itu mendapat apresiasi pimpinan KPK sehingga menjadikan Papua terdepan dalam penerapannya di Indonesia bagian timur. Gubernur Lukas Enembe, S.IP. M.H juga berhasil meningkatkan kualitas SDM Papua yang sehat dan berprestasi, hal ini tergambar dari peningkatan IPM Papua. Disamping itu pertumbuhan ekonomi Papua kian membaik pula dimana tingkat kemiskinan turun dari 31,52 persen 2013 menjadi 28,20 persen di 2016.

Fakta dan bukti – bukti nyata yang ada, tidak bisa terbantahkan bahwa Bp. Lukas Enembe, S.IP., M.H telah bekerja dengan sangat keras dalam upaya membangun peradaban baru di Bumi Papua dan meletakan pondasi dasar pembangunan Papua yang modern dan maju. Lukas Enembe adalah seorang Pemimpin Besar Papua, dihati dan jiwa masyarakat Papua, Lukas Enembe sosok yang cerdas, tetapi rendah hati dan tahu berterima kasih, berani, kharismatik dan pembela Orang Asli Papua. Lukas Enembe tidak pernah lupa akan  selalu ingat, dan hal itulah  menjadikannya itu pijakan semangat  untuk bangkit memimpin rakyat Papua dan membangun Papua menjadi Daerah yang maju.

Dalam pandangan Kenius Kogoya, Gubernur Lukas Enembe, selain membangun infrastruktur sejalan dengan pembangunan pendidikan dan kesehatan SDM orang asli Papua. Pembangunan Peradaban di Papua bukan hanya infstrukturnya saja, karena pembangunan Sumber Daya Orang Asli Papua juga harus secara paralel dibangun. Dan juga Gubernur Lukas Enembe sangat menyadari bahwa kebiasaan masyarakat Papua yang suka dengan minuman ber alkohol adalah salah satu penyebab terhambatnya perkembangan pemikiran dan sikap Orang Asli Papua.

Ketika mencanangkan sebuah Gerakan Peradaban Baru Papua pada tanggal 09 April 2013, Gubernur Enembe mengkaitkan hal ini dengan fondasi sosial “Kasih Menembus Perbedaan”. Nilai kasih yang melewati batas keragaman suku, agama, etnik, golongan sosial ekonomi, maupun afiliasi politik. Peradaban baru harus diisi dengan semangat toleransi dalam kemajemukan.

Lalu Gubernur Lukas Enembe secara berani dan menggebarak mengeluarkan Perda tentang Pelarangan minuman keras di Papua.Lukas Enembe ingin menghilangkan penilaian yang negatif soal orang Papua bahwa orang Papua suka mabuk, suka minum beralkohol tanpa batas. Akibatnya, rusaknya relasi sosial antar warga, kekerasan rumah tangga, kriminal melonjak, image negatif orang Papua, maupun kesehatan orang Papua yang terganggu karena minum keras ini. Gubernur Lukas Enembe sangat mewanti-wanti  bahwa minuman keras ini telah berkontribusi bagi punahnya orang asli Papua, dimana sudah banyak orang Papua yang meninggal akibat minuman keras.  Dari data yang berkembang, Gubernur Enembe sedih dengan mengatakan bahwa angka kematian orang asli Papua akibat minuman keras di Tanah Papua mencapai 22 persen.

Gubernur Enembe, memutuskan sudah saatnya untuk mengubah Peraturan Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Irian Jaya Nomor 11 Tahun 1994 tentang Tata Cara Pemasukan Minuman Keras Antar Pulau ke Wilayah Irian Jaya. Perubahan ini menjadi penting karena hasil evaluasi yang berkembang di masyarakat Papua, situasi faktual pengedaran dan penjualan serta konsumsi minuman beralkohol yang tak terkendali dalam batas yang wajar sehingga berdampak negatif bagi kehidupan orang asli Papua.  Dalam konteks itu, hampir 6 bulan setelah dilantik menjadi Gubernur Papua, Lukas Enembe pada tanggal 30 Desember 2013 menandatangani Peraturan Daerah Provinsi Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pengedaran dan Penjualan Minuman Beralkohol.


Dari Perdasi ini, Gubernur Enembe menetapkan kebijakan pelarangan produksi, pengedaran dan penjualan minuman beralkohol. Kebijakan yang dimaksud adalah pengadaan minuman beralkohol melalui kegiatan impor, produksi, pengedaran dan penjualan minuman beralkohol untuk kepentingan sosial ekonomis, kepentingan kesehatan, dan ritual keagamaan.

Kenius Kogoya juga memaparkan, selain melarang peredaran Miras, Gubernur Lukas Enembe menegaskan bahwa lima tahun kedepan salah satu program prioritas adalah masalah pendidikan di Papua. Salah satu program yang akan dilakukan untuk penguatan pendidikan di Papua adalah dengan memberikan beasiswa bagi anak-anak asli Papua. Menurut Lukas Enembe, pendidikan di Provinsi Papua masih tertinggal jauh, sehingga masalah pendidikan ini menjadi salah satu prioritas. Masalah pendidikan di Provinsi Papua kembali menjadi prioritas, pasalnya saat ini banyak anak-anak Papua terlantar karena pedidikan cukup jauh.

Demikian juga indeks pembangunan di Papua jauh dari harapan saat ini dimana angka kemiskinan juga masih tinggi sekali. Prioritas perbaikan serta peningkatan pendidikan di Papua, khususnya akan dilakukan di daerah yang memang masih rendah kualitasnya. Hal ini sebagai penyemangat bagi siswa untuk terus bersekolah dan memotivasi mereka untuk terus maju. Selain masalah pendidikan, Enembe menegaskan, peningkatan pembangunan infrastuktur juga turut menjadi perhatiannya.

Pentingnya pendidikan menjadi salah satu pilar untuk membuat hidup menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi banyak orang. Sadar akan pentingnya dunia pendidikan, Gubernur Papua Lukas Enembe terus-menerus memperhatikan Orang Asli Papua (OAP) dengan memberikan beasiswa belajar di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia maupun luar negeri.

Sejak program beasiswa Papua mulai dijalankan pada 2009, sudah ada 2.904 penerima beasiswa yang lulus perguruan tinggi dan diwisuda. Jumlah itu terdiri dari 1.646 orang lulusan perguruan tinggi dalam negeri, dan 448 orang lulusan perguruan tinggi luar negeri. Sebanyak 2.904 penerima beasiswa Papua itu diwajibkan untuk pulang dan mengabdi di Indonesia, khususnya di Tanah Papua. Kewajiban untuk pulang dan mengabdi di Indonesia itu tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur Papua bagi mahasiswa penerima program beasiswa Papua.

Kenius Kogoya, menuturkan, sebagai masyarakat Papua, kita jangan pernah melupakan sejarah, banyak telah disumbangsihkan dari tenaga dan pemikiran Gubernur Lukas Enembe didalam membangun tanah Papua ini. Gubernur Lukas Enembe terkadang  sering “bertentangan” dalam hal kebijakan dengan pemerintah Pusat khususnya dalam hal untuk membela kepentingan orang asli Papua. Namun Gubernur Lukas Enembe dengan berani untuk tetap pada pendiriannya. Tentunya dengan sikap seperti itu terkadang ada konsekuensi resiko yang harus dihadapi oleh Gubernur Lukas Enembe.

Sebagai Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Papua, Dr, Kenius Kogoya, S.P., M.Si menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya atas Pegabdian dan Dedikasi Gubernur Lukas Enembe selama 4 tahun di periode yang kedua ini sebagai gubernur Papua. Dan sekaligus mengucapkan selamat atas KEBERHASILAN FENOMENAL dalam membangun Gedung-Gedung Kantor Gubernur Papua, Kantor MRP, Kantor KPU serta beberapa kantor lainnya yang diresmikan bersama masyarakat Papua ketika HUT Provinsi Papua yang ke 73 ini.

Artikel ini telah dibaca 34 kali