Kenius Kogoya Pemimpin Masa Depan Papua Politik Wagub Papua

Saturday, 23 April 2022 - 10:34 WIB

4 weeks yang lalu

Kenius Kogoya Qoutes: Guru Memang Mengantarkan Kita Ke Pintu

Semboyan Guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa saat ini masihlah sangat relevan. Mereka telah mendidik anak-anak calon penerus bangsa ini. Presiden, Pejabat pemerintahan, Pejabat Daerah dan masih banyak lagi, semua adalah produk-produk yang dihasilkan oleh seorang guru. Tanpa guru mereka pastilah bukan siapa-siapa di dunia ini. 

Guru adalah satu dari sedikit profesi yang sangat mulia di muka bumi ini.  Meskipun hanya bergelar Pahlawan tanpa tanda jasa mereka tak henti-hentinya berjuang untuk mengantarkan anak-anak Indonesia menuju cita-citanya agar kelak mereka bisa menjadi penerus bangsa ini dan menjadi manusia yang membanggakan bagi nusa dan bangsa. Mereka telah mengantarkan dan membuka wawasan kita menuju dunia yang sangat luas ini. Mereka jugalah yang telah mengajarkan kita membaca, menulis dan berhitung.

Oleh sebab itu tanpa guru-guru kita tidak mungkin bisa mencapai keberhasilan, meskipun anak-anak didik mereka kelak akan melupakan mereka, meskipun pemerintah tak lagi memperhatikan nasib mereka, Guru akan tetap gigih melaksanakan tugasnya yang begitu mulia untuk membentuk calon-calon pemimpin bangsa. Mereka tak akan lelah mengabdi dan tak akan lelah mengajar hingga usia senja menghampiri mereka. Orang hebat bisa melahirkan beberapa karya yang bermutu. Tetapi Guru yang bermutu, dapat melahirkan orang-orang hebat bahkan ribuan orang hebat.

Guru bukan hanya sebuah pekerjaan yang dimaknai dengan tugas untuk mendidik anak-anak bangsa pada pendidikan formal saja. Guru adalah panggilan jiwa untuk membantu menyalakan pelita pengetahuan dan kebajikan di dalam diri setiap anak bangsa. Sebagai sebuah profesi yang menciptakan masa depan melalui karakter dan keterampilan generasi penerus bangsa, peran guru sangat strategis di dalam pembangunan Nasional.

Ibarat kopi yang didalamnya ada 3 unsur yaitu, kopi, gula dan rasa. Dimana kopi adalah orang tua, gula adalah guru, dan rasa adalah siswa atau murid. Jika kopi terasa terlalu pahit, maka gula-lah yang disalahkan karena terlalu sedikit sehingga kopi terasa pahit. Begitu pula jika kopi rasanya terlalu manis maka gula-lah yang disalahkan karena terlalu banyak. Akan tetapi jika takaran kopi dan gula seimbang sehingga rasanya nikmat, siapa yang dipuji? Tentu semua akan berkata “kopinya mantaap !!”.

Begitulah hidup, kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang, tetapi sedikit saja khilaf maka akan dibesar-besarkan. Untuk itu, mari kita semua senantiasa ikhlas seperti gula yang larut tak terlihat tetapi sangat bermakna. Kepada para guru, tetaplah semangat mengabdi memberi kebaikan dan menyebar kebaikan, karena guru sejati hadirnya ditunggu, hilangnya dirindu, ilmunya diburu, nasehatnya diseru, dan tingkahlakunya ditiru,

Artikel ini telah dibaca 570 kali

Baca Lainnya