Kenius Kogoya Nasional Pendidikan

Monday, 8 November 2021 - 00:58 WIB

6 months yang lalu

KENIUS KOGOYA: PENTINGNYA PENDIDIKAN MORAL DI ZAMAN MODERN

“Begitu pentingnya Pendidikan Moral ditengah perkembangan Zaman yang semakin canggih, karena tanpa pendidikan Moral, maka akan terlahir orang-orang jahat yang memiliki pendidikan tinggi”. (Kenius Kogoya, S.P., M.Si)

 

Perjalanan zaman yang semakin lama semakin berkembangan, manusia semakin cerdas, pengetahuan semakin luas, dan teknologi pun semakin canggih dengan segala penemuan-penemuan terbaru, dan segala yang tidak mungkin dilakukan pada masa lampau, maka akan mungkin terjadi dimasa kini. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah kehidupan kita menjadi semakin baik, semakin nyaman, dan semakin sejahtera baik secara lahiriah maupun rohaniah? Mungkin tidak, bahkan sebaliknya. Kehidupan kita nampaknya semakin mundur dan terpuruk, seperti yang kita lihat di berbagai media bahwa korupsi semakin terang-terangan dan merajalela, krisis multi dimensi pun tak kunjung selesai. Seperti sudah banyak yang lelah melihat persoalan-persoalan negatif yang bermunculan pada mudai modern saat ini, menyaksikan dan mengalami keadaan yang demikian.

Pendidikan tentunya berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

 

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang tak pernah bisa ditinggalkan, jika seseorang tersebut memilik pendidikan yang benar-benar ia terapkan dan amalkan, maka dipastikan ia akan bisa mengendalikan dirinya dari segala hal-hal yang negatif yang akan menghampirinya. Pendidikan bukanlah proses yang diorganisasi secara teratur, terencana, dan menggunakan metode-metode yang dipelajari serta berdasarkan aturan-aturan yang telah disepakati mekanisme penyelenggaraan oleh suatu komunitas suatu masyarakat (Negara), melainkan lebih merupakan bagian dari kehidupan yang memang telah berjalan sejak manusia itu ada.

Pendidikan bisa dianggap sebagai proses yang terjadi secara sengaja, direncanakan, didesain, dan diorganisasi berdasarkan aturan yang berlaku terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat. Pengertian Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang harus digunakan dalam mengembangkan upaya pendidikan di Indonesia. Pasal 3 UU Sisdiknas menyebutkan, “Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peseta didik agar menjadi manusia yag beriman,dan bertakwa kepaa Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. tujuan Pendidikan Nasional merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan oleh setiap satuan Pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan Pendidikan Nasional menjadi dasar dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Selain itu Pendidikan dan nilai moral/agama juga sangat penting bagi tegaknya peradaban bangsa dan masyarakat yanh hidup diera globalisasi yang serba canggih ini. Tanpa pendidikan nilai moral (agama, budi pekerti, akhlak) kemungkinan besar suatu bangsa bisa hancur, carut marut, seperti yang kita cermati banyak pelaku korupsi, pemberitaan hoak, caci maki dan lain sebagainya dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan. Munculnya kembali pendidikan budi pekerti sebagai primadona dewasa ini mencerminkan kegusaran bangsa ini akan terjadinya krisis moral bangsa dan kehidupan sosial.

Pam Schiller dan Tamera Bryant (2001: vii) mengemukakan inilah waktunya untuk menentukan apakah nilai-nilai moral penting bagi masa depan anak-anak kita dan keluarga kita, dan kemudian mendukung dan mendorong mereka mempraktikkan nilai-nilai moral tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Siapa yang bertanggung-jawab untuk mengajarkan nilai-nilai moral ini pada anak-anak bangsa. Tanggung-jawab itu dipikul oleh  semua lapisan masyarakat yang saling membantu satu sama lainnya. Apakah kita menyadari atau tidak, kita selalu mengajarkan nilai moral, tetapi kita harus lebih berusaha keras untuk mengajamya. Nilai-nilai moral yang kita tanamkan sekarang, sadar atau tidak sadar, akan mempunyai pengaruh yang sangat besar pada masyarakat yang akan datang.

Ciri-ciri yang menunjukkan adanya pendidikan moral: (1) cukup memperhatikan instink dan dorongan-dorongan spontan dan konstruktif; (2) cukup membuka kondisi untuk membentuk pendapat yang baik; (3) cukup memperhatikan perlunya ada kepekaan untuk menerima dan sikap responsif; (4) pendidikan moral memungkinkan memilih secara bijaksana mana yang benar, mana yang tidak.

Jadi pendidikan nilai moral adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh manusia (orang dewasa) yang terencana untuk memberikan kesempatan kepada anak, generasi penerus) menanamkan keTuhanan, nilai-nilai estetik dan etik, nilai baik dan buruk, benar dan salah, mengenai perbuatan, sikap dan kewajiban; akhlak mulia, budi pekerti luhur agar mencapai kedewasaannya dan bertanggung jawab. Adapun ruang lingkup pendidikan nilai moral antara lain meliputi: keTuhanan, kejujuran, budi pekerti, akhlak mulia, kepedulian dan empati, dan integritas, humor, mandiri dan percaya diri, loyalitas, sabar, rasa bangga, banyak akal, sikap respek, tanggung jawab, dan toleransi (Pam Schiller dan Tamera Bryant, 2002), serta ketaatan, penuh perhatian, dan tahu berterima kasih.

Semoga dengan adanya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pendidikan moral bisa mencetak generasi-generas muda yang religius, berintegritas, budi pekerti, akhlak mulia. Dengan demikian masyarakat akan hidup damai dan tentram dalam menjalani kehidupan. (JS)

Artikel ini telah dibaca 547 kali

Baca Lainnya