Pemuda

Monday, 29 November 2021 - 15:28 WIB

1 year yang lalu

KENIUS KOGOYA: PENTINGNYA BUDAYA BACA DAN PENGGUNAAN DIGITAL YANG POSITIF

Sejumlah Negara yang dikenal memiliki budaya baca tinggi sudah lebih cepat mengantisipasinya. Mengapa negara-negara dengan penduduk suka baca buku (cetak) tidak mengalami penurunan dalam tingkat likterasi? Sebab, budaya baca sudah menyatu sebagai kebiasaan. Sebagai contoh, Jepang, Industri buku cetak di sana tidak mengalami penuirunan signifikan. Orang tetap asyik membaca lewat bacaan cetak ataupun elektronik.

Sebaliknya, di Indonesia budaya baca kurang hidup, masyarakat lebih terbiasa dengan budaya nonton dan budaya ngomong (bicara). Kebiasaan (habits) yang baik – membaca – perlu dipaksakan agar diterima, menyatu sebagai kultur. Kebiasaan membaca perlu di tambahkan , kalau perlu dipaksakan, di antaranya le-wat pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.

Menanamkan kesadaran pentingnya membaca seperti disampaikan olehh Magniz Suseno dalam Bukuku Kakiku (Gramedia, 2004). Di situ, Magniz menulis bahwa membaca itu betul-betul menjadi surga baginya. Membaca tidakhany amemperluascakrawala, melainkan juga merupakanpelepasan emosional dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan.

Membaca juga berarti membiarkan diri ditarik keluar dari penjara perhatian berlebihan pada diri sendiri,melihat dunia, manusia mengalami tantangan, terangsang dalam fantasi, ber- semangat untuk melakukan sesuatu. Turunnya minat baca dalam praksis pendidikan-tentuada kekecualian- menunjukkan sinkronisasi dampak negatif serba elek- tronik dengan keinginan serba praktis. Budaya instan secara umum tidak mendukung tingkat literasi. Karena itu, membaca sebagai ketrampilan dan kebiasaan perlu dilatihkan dan dibiasakan, berbeda dengan menonton dan berbicara.Dinamika bahasa mengikuti dinamika social. Dunia sastra termasukpara penulis cerita pendek (cerpenis), sebagai salah satu tumpuan utama pengembangan bahasa Indonesia.

Tulis, baca adalah dasar pembninaan agama dan kunci ilmu pengetahuan. Pembelajaran literasi digital tidak bisa dielakkan  lagi mengingat keterikatan manusia dengan internet semakin erat. Indonesia termasuk kedalam lima besar Negara pengguna media sosial terbesar di dunia masih tertatih dalam penguasaan etika berinteraksi dan mengolah informasi di dunia maya.

Kemajuan teknologi informasi sangat pesat dalam beberapa dekade ini membawa dampak positif maupun negatif bagi remaja. Penggunaan internet, televisi, tele- pon seluler, smartphone, Facebook, Twitter, MySpace, Path, Instagram, Whatsapp, Massenger, dan lainnya tengah marak. Ini memungkinkan munculnya aktivitas komunikasi melaluii media, short mes-sage service (SMS). Chatting, komentar dalam forum daring (online),blog, chatrooms,status updating seperti Twitter dan Facebook, dan bentuk online lainnya.

Dampak negatifnya, antara lain akses yang tanpa batas terhadap tayangan berbau kekerasan, pornografi, perilaku konsumtif via internet, sexting, dan salah satu tantangan baru yaitu cyberbullying. Anak dan remaja cenderung meniru dan mencoba hal yang dianggapnya baru dan menantang. Sekitar 52 persen anak di Indonesia telah menemukan konten pornografi melalui iklan atau situs yang tidak mencurigakan, tetapi hanya 14 persen mengakui telah mengakses situs porno secara sukarela Seperti halnya internet juga berpengaruh terhadap peningkatan kejadian penggunaan rokok, alkohol, dan pergaulan bebas termasuk seks bebas.

Pembelajaran literasi digital tidak bisa dielakkan lagi mengingat keterikatan manusia dengan internet semakin erat. Indonesia yang termasuk kedalam lima besar Negara pengguna media social terbesar di dunia masih terlatih dalam penguasaan etika berinteraksi dan men- golah informasi di dunia maya.

Artikel ini telah dibaca 328 kali

Baca Lainnya