Budaya Kenius Kogoya Nasional

Thursday, 11 November 2021 - 01:30 WIB

1 year yang lalu

KENIUS KOGOYA: MENGAMALKAN NILAI PANCASILA DENGAN GOTONG ROYONG

“Gotong royong merupakan salah satu pengamalan dari butir-butir pancasila dan gotong royong juga mengandung unsur sosial dalam masyarakat kontemporer dengan adanya nilai-nilai gotong royong dalam interaksi sosial, maka akan membentuk suatu masyarakat yang maju”. (KENIUS KOGOYA, S.P., M.Si)

 

Menerapkan Pancasila dalam interaksi sosial kehidupan sehari-hari salah satunya bisa dengan membentuk sikap gotong-royong dalam membentuk nilai-nilai modal sosial. Hal menunjukkan bahwa budaya gotong-royong sebagai sebuah nilai moral yang mempunyai akar filosofis dalam kajian akademis. Dikarenakan bahwa dalam budaya gotong royong melekat nilai-nilai persatuan sosial yang diperlukan untuk kemajuan dan menyejahterakan masyarakat. Juga akan terbentuk sikap saling membantu, menghargai dan saling memiliki.

Nilai-nilai gotong royong ini perlu dibentuk dan dilakukan untuk menguatkan budaya masyarakat baik individu maupun kelompok sebagai modal sosial dalam meraih kesejahteraan bersama. Jika Situasi interaksi terindikasi mengalami kekacauan sosial bisa jadi semangat semangat gotong royong telah melemah bahkan menghilang.

Jika kita cermati khususnya masyarakat Indonesia ternyata gotong royong merupakan budaya yang telah tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sebagai warisan budaya yang telah eksis secara turun-temurun. Gotong royong adalah bentuk kerja-sama kelompok masyarakat untuk mencapai suatu hasil positif dari tujuan yang ingin dicapai secara mufakat dan musyawarah bersama. Gotong-royong muncul atas dorongan keinsyafan, kesadaran dan semangat untuk mengerjakan serta menanggung akibat dari suatu karya, terutama yang benar-benar, secara bersama- sama, serentak dan beramai-ramai, tanpa memikirkan dan mengutamakan keuntungan bagi dirinya sendiri, melainkan selalu untuk kebahagiaan bersama. Jika untuk dinikmati bersama, jika rugi ditanggung bersama, rasa kebersamaan ini yang harus diperkuatkan oleh suatu masyarakat untuk bisa menjadi masyarakat yang berkemajuan.

Setiap individu yang memegang prinsip dan memahami dasar gotong royong secara sadar bersedia melepaskan sifat egois. Gotong royong harus dilandasi dengan semangat keihklasan, kerelaan, kebersamaan, toleransi dan  kepercayaan. Singkatnya,  gotong royong lebih  bersifat  intrinsik, yakni interaksi sosial dengan latar belakang kepentingan atau imbalan non-ekonomi. Keikhlasan menjadi modal besar dan pondasi untuk menanamkan sifat gotong royong, jika masih ada rasa egois dan ingin menang sendiri bisa dikatakan seseorang tersebut masih jauh dengan sifat gotong royong.

Gotong-royong adalah suatu faham yang dinamis, yang menggambarkan usaha bersama, suatu amal, suatu pekerjaan atau suatu karya bersama, suatu perjuangan bantu-membantu.  Gotong-royong adalah amal dari semua untuk kepentingan semua atau jerih payah dari semua untuk kebahagian bersama. Dalam azas gotong-royong sudah tersimpul kesadaran bekerja rohaniah maupun kerja jasmaniah dalam usaha atau karya bersama yang mengandung  didalamnya  keinsyafan, kesadaran dan sikap jiwa untuk menempatkan serta menghormati kerja sebagai kelengkapan dan perhiasan kehidupan.

Dengan berkembangnya tata- tata kehidupan dan penghidupan Indonesia menurut zaman, gotong-royong yang pada dasarnya adalah suatu azas tata-kehidupan dan penghidupan Indonesia asli dalam lingkungan masyarakat yang serba sederhana mekar menjadi Pancasila. Prinsip gotong royong melekat subtansi nilai-nilai ketuhanan, musyawarah dan mufakat, kekeluargaan, keadilan dan toleransi (peri kemanusiaan) yang merupakan basis pandangan hidup atau sebagai landasan filsafat Bangsa Indonesia.

Maka dari itu penting nilai-nilai gotong royong dalam masyarakat, karena gotong royong merupakan kunci kemajuan dan kunci perkembangan suatu daerah, karena masyarakat inilah yang bergerak melaksanakan kegiatan-kegiatan positif fitengah-tenga masyarakat. (JS)

Artikel ini telah dibaca 740 kali

Baca Lainnya