Pemuda

Tuesday, 16 November 2021 - 01:14 WIB

1 year yang lalu

KENIUS KOGOYA: MEMBANGUN NASIONALISME PADA GENERASI MUDA

Pada era globalisasi sekarang yang semakin berkembangnya teknologi informasi dapat mengakibatkan menjamurnya budaya-budaya asing serta produk-produk dari luar yang lebih menarik.  Dan di Era globalisasi sekarang ini, salah satu permasalahan penting yang sedang dihadapi bangsa ini adalah pudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme di kalangan generasi muda. Berbagai permasalahan yang timbul akibat memudarnya semangat nasionalisme dan patriotisme banyak terjadi belakangan ini, banyak generasi muda yang mengalami disorientasi dan terlibat pada suatu kepentingan yang hanya mementingkan diri pribadi dan terkadang tidak peduli dan tidak mau tahu bagaimana para pejuang kita dengan susah payah memperoleh kemerdekaan. Di tengah situasi bangsa Indonesia yang seperti saat ini, nasionalisme sangat di butuhkan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada zaman globalisasi ini teknologi berkembang semakin pesat dan akan semakin berkembang secara terus menerus seiring dengan berjalannya waktu. Teknologi juga telah menjadi sebuah kebutuhan dan menjadi peranan penting bagi kehidupan manusia. Teknologi bisa dikaitkan dengan nasionalisme menurut perkembangannya. Nasionalisme di Indonesia semakin menurun dari waktu ke waktu, hal ini berbanding terbalik dengan teknologi yang selalu berkembang. Secara sepintas terlihat tidak ada kaitannya antara teknologi dan nasionalisme, tetapi sebenarnya nasionalisme ini sangat bergantung kepada teknologi. Teknologi memiliki pengaruh dan dampak yang positif dan negatif bagi nasionalisme, Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian.

Dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah, para pemuda pada zaman kolonialisme bersusah payah dengan mempertaruhkan nyawa. Mereka rela berkorban apa saja demi membebaskan negeri ini dari kekuasaan penjajah. Hal ini dilakukan oleh mereka dengan penuh rasa nasionalisme dan patriotisme tinggi yang mencapai puncaknya pada Kongres Pemuda II yang menghasilkan Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928

Generasi yang lebih tua mewariskan tidak hanya pengetahuan tentang tonggak sejarah atas kejadian yang terjadi di masa lalu tetapi juga mengenai semangat nasionalisme yang juga berpengaruh atas perjalanan hidup dalam berbangsa dan bernegara. Karena dengan demikian akan tercipta suatu hubungan emosional secara timbal-balik di antaranya dalam kaitan semangat nasionalisme. Hal ini akan menjadi sebuah tuntutan yang layak, supaya generasi muda dapat menghargai jasa- jasa para Pejuang dan Pahlawan sehingga mereka dapat menempatkan para Pejuang dan Pahlawan yang terhormat. (Muhammad, Ali. 2011)

Selama ini, pendidikan selalu menitik beratkan pada aspek kognitif semata, sedangkan aspek afektif emosional dan kecerdasan spriritual kurang diperhatikan dan seolah tidak menjadi garapan pendidikan. Masyarakat menganggap bahwa orang yang cerdas ialah mereka yang mampu menghapal banyak rumus, menguasai bahasa asing dengan fasih, dan mampu menjawab soal pelajaran secara tepat dan cermat. Sehingga dunia pendidikan hanya memproduksi orang yang mempunyai kecerdasan otak. Padahal, tujuan pendidikan yang tertuang dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara yang impelmentasinya pendidikan hanya mencerdaskan otak, bukan mencerdaskan kehidupan, sehingga selama ini pendidikan banyak memproduksi intelektual yakni orang yang memiliki otak yang cerdas dan cemerlang.

Jika dihadapkan pada perkembangan di era globalisasi yang merupakan suatu proses menjadikan sesuatu sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Tetapi para globis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut adalah bentuk penjajahan Barat (Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Seperti yang dicontohkan oleh (Hariana, Irwan.2010) Pada saat upacara bendera, masih  banyak pemuda yang tidak memaknai arti dari upacara tersebut. Upacara merupakan wadah untuk menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang keras untuk mengambil  kemerdekaan dari tangan para penjajah. Para pemuda seakan sibuk dengan pikirannya sendiri, tanpa mengikuti upacara dengan khidmad. Pada peringatan    hari-hari    besar     nasional, seperti Sumpah Pemuda, hanya            dimaknai sebagai seremonial dan hiburan saja tanpa menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme dalam benak mereka.

Berbeda dengan generasi muda masa lalu, generasi muda hari ini hidup pada era globalisasi. Era yang dimulai sejak awal tahun 1980-an ini telah banyak mengubah berbagai bidang dan aspek kehidupan manusia, misalnya di bidang politik, sosial, ekonomi, agama, dan teknologi. Secara umum era globalisasi adalah proses mengglobal atau mendunia. Salah satu aspek yang juga ikut berubah dengan masuknya era globalisasi adalah aspek hidup ketatanegaraan. Salah satu bagian yang termasuk dalam aspek ini adalah konsep nasionalisme.

Begitu besar pengaruh globalisasi terhadap perubahan pola pikir generasi muda, hingga melahirkan generasi yang apatis atau tidak peduli akan nilai-nilai nasionalisme. Padahal jika kita berkaca pada generasi muda masa lalu rasa nasionalisme dimiliki oleh seluruh generasi ketika itu, rasa nasionalisme tumbuh dengan sendirinya. Tanpa adanya paksaan dan tekanan. Dan millennial pada saat ini harus benar-benar bisa menumbuhkan semangat Nasionalisme.

 

Artikel ini telah dibaca 284 kali

Baca Lainnya