Pemerintahan Politik

Wednesday, 5 January 2022 - 23:06 WIB

5 months yang lalu

Kenius Kogoya: Kepemimpinan Modern Dalam Era Kancah Global

Teori kepemimpinan zaman dahulu banyak yang sudah tidak sesuai zaman dan tidak dapat lagi diterapkan di masa sekarang. Kepemimpinan zaman dahulu adalah kepemimpinan yang linear, di mana hubungan hanya seperti “majikan” dengan bawahan. Dengan gaya kepemimpinan seperti itu, bawahan hanya melakukan pekerjaan jika sudah mendapatkan perintah.

Di masa sekarang, cara memimpin seperti di atas tidak bisa dilakukan lagi karena kini semua pihak harus berjalan bersama. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan, perkembangan teknologi, dan inovasi digital yang bergerak semakin cepat secara eksponensial. Bahkan, tambahnya, digitalisasi adalah penyebab utama hilangnya lebih dari setengah perusahaan yang termasuk dalam Fortune 500 sejak tahun 2000.

Perusahaan maupun Pemerintahan Daerah yang mampu bertahan dan berkembang di masa sekarang adalah yang memiliki mindset eksponensial dan mampu beradaptasi serta berubah dengan cepat. Karena itu, gaya kepemimpinan juga harus berubah. Seorang pemimpin harus agile (tangkas), harus siap untuk mengubah diri sendiri dan memberi contoh bagi orang lain agar ikut berubah.

Dalam masa perkembangan pesat seperti sekarang ini globalisasi telah membawa konsekuensi logis bagi kehidupan organisasi seperti munculnya perbaikan sistem upah, kenaikan kesejahteraan, perpanjangan masa pensiun yang dapat memicu timbulnya berbagai konflik internal maupun eksternal. Pada situasi yang serba tidak menentu akibat cepatnya perubahan sekarang ini, suatu organisasi memerlukan kepemimpinan visioner. Kepemimpinan Visionerlah yang akan mampu menjadi penyeimbang dan penyelaras berbagai kepentingan seluruh anggota organisasi di masa datang.

Kualitas kepemimpinan dalam proses perubahan yang sedang berlangsung seperti saat ini, tidak boleh terjebak hanya pada fungsi memberi nasehat, memberi perintah, dan memberi mandat pada bawahannya, tetapi lebih pada bagaimana memberi visi, misi, dan tujuan organisasi secara jelas dan komprehensif kepada seluruh elemen organisasi. Kepemimpinan visioner diyakini akan mampu mengadaptasi antara organisasi yang dipimpinnya terhadap lingkungan eksternal yang terus berubah. Agar para pimpinan dan seluruh bawahan saling terlibat dalam mewujudkan tujuan organisasi, maka dibutuhkan interaksi sosial satu sama lain yang saling membantu dan
membutuhkan sehingga tercipta lingkungan kerja yang kondusif dan menentramkan.

Dalam proses bersosialisasi dan berinteraksi, seorang pimpinan harus mampu memberikan dorongan atau semangat kepada para bawahan guna mencapai kinerja organisasi secara optimal. Peter F Drucker, (1996) dalam bukunya the leader of the future menekankan mengenai bagaimana hendaknya seorang pemimpin bersikap dalam menghadapi dunia di masa yang akan datang. Drucker mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah tidak hanya sekedar mendelegasikan tugas, tetapi juga melakukan apa yang didelegasikan kepada para bawahannya,
dalam Dwi Setyorini, (2008).

Lebih jauh Drucker juga mengingatkan bahwa percepatan akselerasi teknologi, kompetisi global, dan perubahan demografi telah menciptakan tipe organisasi baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pemimpin sebagai penyelaras, penyeimbang, dan mediator berbagai kepentingan organisasi, harus mampu memerankan berbagai tipe kepemimpinan sekaligus demi menjaga kelangsungan organisasi yang dipimpinnya. Selain itu pemimpin sebagai agen perubahan (agent of change) juga harus mampu melihat jauh kedepan terhadap berbagai fenomena yang akan terjadi. Kemampuan dalam memperkirakan berbagai fenomena dan kemudian mentransformasikannya ke dalam praktek kepemimpinan akan memberikan sumbangan berharga bagi kehidupan organisasi di masa akan datang.

Masa yang akan datang membutuhkan sosok pemimpin visioner yang mampu memikirkan organisasi yang dipimpinnya jauh sebelum orang lain memikirkannya. Dalam menghadapai dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian, pemimpin visioner tidak sekedar reaktif terhadap perubahan tetapi lebih bersifat aktif, kreatif, dan inovatif. Organisasi bisnis dan Pemerintahan yang mampu mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan pasar yang penuh persaingan, tidak akan pernah kehilangan daya inovasi dan penetrasi terhadap tuntutan perubahan.

Setiap orang ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar pasti memiliki cita –cita, keinginan, dan impian – impian yang akan diwujudkan kelak jika sudah dewasa. Ketika sudah dewasa dan menjadi seorang pemimpin di suatu organisasi, kemudian bercita – cita ingin merancang sebuah organisasi yang maju, profesional, dan mampu bersaing di tingkat global, maka sebenarnya itulah yang dinamakan impian atau visi. Ilustrasi di atas walaupun secara sederhana dan lebih bersifat individual, sebenarnya telah membawa pada pendefinisian awal tentang apa yang disebut Visi.


Visi adalah masa depan yang realistis, dapat dipercaya, dan menarik bagi organisasi. Visi adalah pernyataan tujuan ke mana suatu organisasi akan dibawa, sebuah masa depan yang lebih baik, lebih berhasil, atau lebih diinginkan dibandingkan dengan kondisi sekarang. Dengan kata lain, visi sangat erat hubungannya dengan masa depan yang penuh dengan berbagai kemungkinan yang lebih baik daripada sekarang. Visi juga merupakan bentuk ekspresi dari kekuatan usaha setiap orang dalam suatu organisasi dalam mewujudkan apa yang menjadi harapan – harapan tersebut.

Pengejawantahan visi yang dilakukan secara benar dari seorang pemimpin akan menghasilkan komitmen dan membangkitkan motivasi yang tinggi kepada para bawahan yang ada dalam suatu organisasi. Visi yang jelas dan benar akan menyadarkan setiap orang mengenai peran dan fungsinya dalam suatu organisasi, baik langsung maupun tidak langsung. Seorang pemimpin visioner, dapat melihat dari kemampuannya mengejawantahkan visi kepada seluruh anggota organisasi melalui kontribusi masing – masing terhadap organisasi. Visi yang benar juga dapat memberikan arti filosofis kepada setiap individu menyangkut pengabdian, kebanggaan, dan citra diri bawahan dalam mengenali siapa dirinya dan siapa orang lain.

Visi seorang pemimpin akan menginspirasi bawahannya dalam melakukan tindakan dan membentuk tentang masa depan. Pemimpin yang memiliki visi kuat, akan berdampak dalam praktek pengejawantahan visi tersebut kepada seluruh orang – orang yang menjadi bawahannya.

Kepemimpinan berarti kemampuan mempengaruhi, memotivasi, mengajak, dan mengarahkan orang lain kepada suatu tujuan yang telah ditentukan. Selain itu kepemimpinan merupakan proses, suatu konsep relasi, artinya sebuah kepemimpinan bisa berlangsung jika ada pengikut/bawahan. Kepemimpinan tanpa bawahan tidak memiliki apa-apa, sebaliknya bawahan tanpa adanya kepemimpinan akan liar dan sesat. Kepemimpinan bukan sekedar pemberian otoritas dan wewenang dari seorang pemimpin kepada bawahan, tetapi lebih pada proses pemberian wewenang tersebut diberikan.

Paradigma baru tentang organisasi di masa datang telah mengubah orientasi dari masa industri menuju masa informasi. Pada masa lalu banyak organisasi yang mementingkan stabilitas atau status quo kini telah bergeser menuju pada pentingnya perubahan secara terus – menerus (continous improvement). Jika pada masa lalu organisasi lebih berorientasi pada pengendalian (control).

Kepemimpinan Visioner dalam Kancah Global ini telah mengadopsi perlunya pemberdayaan (empowerment). Kompetisi pada masa lalu sangat menentukan tingkat keberhasilan organisasi atau perusahaan, kini kolaborasi atau gabungan antar elemen menjadi daya saing yang tinggi. Pada masa lalu barang sebagai keunggulan kompetitif dari pada pesaing, maka sekarang dan masa yang akan datang orang (human resources) dengan visi yang jelas dan hubungan (relation) yang luas sangat menentukan keberhasilan organisasi.

Percepatan akselerasi teknologi, kompetisi global, dan perubahan demografi telah menciptakan tipe organisasi baru yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Pemimpin sebagai agen perubahan (agent of change) harus memiliki kemampuan lebih dalam melihat jauh kedepan terhadap berbagai fenomena yang akan terjadi. Dalam menghadapi dunia yang penuh gejolak dan ketidakpastian, organisasi memerlukan seorang pemimpin visioner yang tidak sekedar reaktif terhadap perubahan tetapi lebih bersifat aktif, kreatif, dan inovatif dalam menghadapi perubahan tersebut.

Artikel ini telah dibaca 534 kali

Baca Lainnya