Budaya Pemuda

Wednesday, 24 November 2021 - 08:48 WIB

1 year yang lalu

KENIUS KOGOYA: JIWA GOTONG ROYONG HARUS ADA PADA PEMUDA

Pemuda merupakan pewaris generasi yang seharusnya memiliki nilai-nilai luhur, bertingkah laku baik, berjiwa membangun, cinta tanah air, memiliki visi dan tujuan positif. Pemuda harus bisa mempertahankan tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas bangsa. Pendidikan formal yang dilakukan juga harus menjadi bekal untuk bergaul dalam masyarakat. Warga negara yang baik yaitu: Warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan dengan baik hak dan kewajibannya sebagai individu, peka dan memiliki tanggung jawab sosial, mampu memecahkan masalahnya sendiri dan masalah kemasyarakatan sesuai fungsi dan perannya (socially sensitive, socially responsible, dan socially intelligence), agar dicapai kualitas pribadi dan perilaku warga masyarakat yang baik (socio civic behavior dan desirable personal qualities).

Pemuda menjadi perhatian dari berbagai kalangan di segala bidang. Peran pemuda dalam masyarakat sebagai apresiasi pembelajaran di sekolah bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu upaya dalam proses pembentukan warga negara yang baik. Sebagaimana dikemukakan oleh Cogan dan Derricott, citizenship lebih mengarah pada karakteristik warga negara karena menyangkut berbagai dimensi pendidikan, politik, sosial budaya, dan ekonomi. Peran pemuda yang disebutkan dalam Undang- Undang Negara Republik Indonesia Nomor 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan pasal 16 tentang peran pemuda yaitu: “Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan Nasional.” Dalam masyarakat sangat diperlukan peran pemuda sebagai penerus nilai-nilai luhur budaya bangsa, sebagai pondasi dan kekuatan moral, agen perubahan ke arah yang lebih baik.

Sejarah tolong menolong di Indonesia sangat akrab disebut gotong royong, bahwa Semangat gotong royong mengungkapkan cita-cita kerakyatan, kebersamaan dan solidaritas sosial. Berdasarkan semangat gotong royong dan asas kekeluargaan, negara mempersatukan diri dengan seluruh lapisan masyarakat.” Korelasi gotong-royong sebagai nilai budaya Nilai itu dalam sistem budaya mengandung empat konsep; manusia itu tidak sendiri di dunia ini tetapi dilingkungi oleh masyarakatnya, manusia tergantung dalam segala aspek kehidupan kepada sesamanya, harus selalu berusaha memelihara hubungan baik dengan sesamanya, dan selalu berusaha untuk berbuat adil dengan sesamanya.

Memudarnya nilai gotong royong terjadi apabila rasa kebersamaan mulai menurun dan setiap pekerjaan tidak lagi bersifat sukarela, bahkan hanya dinilai dengan materi atau uang. Sehingga jasa selalu diperhitungkan dalam bentuk keuntungan materi, akibatnya rasa kebersamaan makin lama akan semakin menipis dan penghargaan hanya dapat dinilai bagi mereka yang memiliki dan membayar dengan uang. Kondisi yang serba materi seperti saat ini telah menjadikan nilai-nilai kebersamaan yang luhur semakin luntur dan tidak lagi bernilai.

Modernisasi telah mempengaruhi kegiatan kerja sama, dulu masyarakat saling membantu karena mereka saling peduli, tidak menuntut untuk mempunyai keahlian tertentu yang terpenting adalah kebersamaan dan solidaritas pada masyarakat. Akan tetapi adanya modernisasi telah merubah perilaku masyarakat, adanya tenaga ahli dan adanya sistem pengupahan menjadi kebiasaan untuk diterapkan dalam masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, tenaga ahli semakin beragam dapat ditemukan, hal tersebut semakin lama dikhawatirkan akan mempengaruhi kegiatan dalam bentuk kerja sama seperti. Tidak menutup kemungkinan tenaga ahli juga dapat ditemukan dengan mudah di daerah pedesaan. Sebab itu, dikhawatirkan gotong royong mulai ditinggalkan masyarakat dan mempengaruhi solidaritas masyarakat yang pada umumnya solid.

Di dalam masyarakat, pemuda merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber bagi pembangunan bangsa karena pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan. Kaum muda yang ada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan serta dalam situasi yang berbeda yang tidak selalu mudah, merupakan bagian dari keseluruhan bangsa. Oleh karena itu mereka tidak dapat dipisahkan dari masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa.

Proses sosialisasi pemuda dapat membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri. Proses sosialisasi berawal dari dalam keluarga. Melalui proses sosialisasi, pola pikir pemuda akan berwarna dan beragam, pemuda menjadi tahu bagaimana ia bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Berkaitan dengan hal tersebut, Perkembangan sosial kaum muda menyangkut perluasan jalinan hubungan dengan orang lain. Dengan lewatnya umur kanak-kanak dan berkat pertumbuhan fisik mereka, pergaulan kaum muda tidak terbatas lagi dengan orang-orang dalam lingkungan keluarga, tetapi meluas ke teman-teman sebaya, orang-orang di lingkungan tempat tinggal dan masyarakat luas.

Perubahan dan kondisi masyarakat sebagai penentu peranan pemuda yang ditentukan oleh kemampuannya dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada pada setiap jamannya, sehingga tidak ketinggalan informasi yang pada akhirnya bisa mengatasi dan mempersiapkan solusi yang tepat. Manusia pada dasarnya selalu hidup di dalam suatu lingkungan yang serba berpranata. Artinya segala tindak tanduk atau perilaku manusia senantiasa diatur menurut cara-cara tertentu yang telah disepakati bersama.

Artikel ini telah dibaca 691 kali

Baca Lainnya