Kenius Kogoya Ketua DPD Relawan Jokowi Provinsi Papua Politik

Friday, 27 May 2022 - 18:13 WIB

3 months yang lalu

Kenius Kogoya, Hidup Adalah Perubahan

Hidup dalam waktu yang berubah dan semuanya berubah dalam detik saja ada perubahan baik diri sendiri dan perubahan waktu waktu yang sudah lewat maka datang waktu selanjutnya dan sedirinya akan berubah apa yang terjadi, kita tidak tau apa yang akan terjadi pada eaktu itu dengan hubunganya diri sendiri sehingga rencana yang sudah disusun sebelumnya berubah apa yang kita harapkan sebuah kenyataan bahwa kita hanya diperjalankan atau di gerakkan ada yang mengaturnya rencana manusia tidak ada yang ingin gagal, tapi sering gagal dari balita sampai tua dengan keinginanan tapi tidak berhasil tapi gagal itu perubahan pada setiap saat

apapun di alam semesta semuanya berubah dari waktu sedetik sampai umur penghabisan tidak sedikit orang kaya jadi miskin atau sebaliknya, sehat jadi sakit perubahan tersebut ada yang merubahnya sesungguhnya adalah diri sendiri jadi atau tidak berubahnya dan tergantung pada perbuatan yang artinya iktiar untuk meraih.

Saya percaya jika ada kemauan dan usaha semua hal pasti bisa dilakukan. 

Tantangan bisa jadi motivasi untuk kita berubah ke arah yang lebih baik. Menurut saya, tantangan dari luar diri masih bisa diatasi selama ada kemauan dan restu dari Tuhan. Akan tetapi tantangan yang lebih sulit adalah yang datang dari dalam diri. Dari beragam tantangan yang hadir dalam hidup, tantangan terbesar yang saya temui adalah berdamai dengan diri sendiri. Sampai saat ini pun saya masih belajar untuk terus berproses menemukan itu. Akan tetapi, dalam prosesnya saya merasa sudah banyak yang berubah di dalam diri. Kini saya sudah bisa lebih sabar dan lebih memiliki empati, berusaha memahami situasi orang lain dan tidak menghakimi.

Dari beragam tantangan yang hadir dalam hidup, tantangan terbesar yang saya temui adalah berdamai dengan diri sendiri.

Selain itu, pernikahan juga telah mengubah hidup saya. Saya merasa lebih tenteram setelah menikah. Sebagai pribadi yang ambisius saya selalu berpikir, “What’s next?“ dan cenderung mencari adrenalin rush di setiap kesempatan. Namun saat saya bersama pasangan, dialah yang memberikan endorphin ke dalam diri. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada Tuhan karena telah memberikan seorang soulmate dan pendamping yang membuat segala sesuatu terasa damai. I am a lucky lady. Keputusan kami menikah di pandemi juga bukan sesuatu yang disengaja. Sebelumnya kami sudah merencanakan menikah. Kami sudah yakin dan mantap untuk menikah. Sehingga meski sedang pandemi, kami memutuskan untuk tidak menunda. Tidak berhenti di sana, perubahan dalam hidup saya juga datang dari aspek keagamaan. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadi mualaf. Saya terinspirasi dari ayah yang memperlihatkan berbagai kebaikan yang datang dari agama Islam. Saya berharap perubahan ini bisa membuat saya menjadi pribadi yang lebih baik dan saleha. 

Selama pandemi saya pun banyak melakukan refleksi diri. Menurut saya, pandemi mengajarkan kita untuk bersyukur dan tidak memegahkan diri sebab tidak ada yang pasti dalam hidup ini. Pandemi juga membuat saya lebih merendahkan hati lagi karena sebagai manusia kita hanyalah sebutir debu di dunia ini. Sehebat apapun manusia, kita ada apa-apanya di dalam alam semesta. Tidak memiliki kemampuan sebesar Sang Pencipta. Sehingga selama saya masih hidup, saya ingin berupaya untuk memanfaatkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Live the life to the fullest with no regrets. Saya ingin membahagiakan orang-orang tersayang juga hidup damai dengan orang tua, adik-adik dan suami tercinta. Ambisi pekerjaan dan hal-hal lain tentu masih ada. Tapi nilai utama dalam hidup saya tetap berpusat pada keluarga.

Sehebat apapun manusia, kita ada apa-apanya di dalam alam semesta. Tidak memiliki kemampuan sebesar Sang Pencipta.

Artikel ini telah dibaca 201 kali

Baca Lainnya