Budaya

Thursday, 16 December 2021 - 10:12 WIB

5 months yang lalu

KENIUS KOGOYA: BANGUN SIKAP SALING MENGHARGAI

Keberagaman membutuhkan sinergi. Sinergi ada karena ada keberagaman. Itulah dua hal yang hendaknya dapat berjalan beriringan untuk mendapatkan keharmonisan. Dua hal inilah yang justru seringkali menimbulkan ketidaksepahaman. Bahkan tidak hanya itu, yang lebih parah lagi karena adanya keberagaman muncul pertikaian yang tidak berujung. Pertikaian tersebut kemudian mengabaikan pentingnya kebersamaan dalam mencapai tujuan. Pertikaian ini sebenarnya merupakan hal yang tidak perlu terjadi. Keberagaman atau ada yang menyebutnya diversity, seringkali tidak terelakkan lagi. Keberagaman adalah sebuah realitas yang harus diterima, apalagi di era global seperti sekarang ini.

Saat ini, isu keberagaman sudah mulai menjadi fenomena yang memang betul- betul dapat dirasakan oleh berbagai pihak di segala bidang. Ada banyak kasus di berbagai bidang yang pada dasarnya berakar pada masalah isu keberagaman. Masalah isu keberagaman seperti adanya perbedaan gender, ras, status, agama, pendidikan, latar belakang budaya dan sebagainya. Adanya perbedaan-perbedaan tersebut menjadi pemicu terjadinya permasalahan.

Keberagaman dituding menjadi pangkal permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini. Permasalahan yang terjadi bahkan sudah tampak sering terjadi di dunia pendidikan yang berujung di dunia kerja. Hal ini dtunjukkan dengan seringnya ditemui kasus-kasus pergesekan kepentingan antar profesi. Hal ini terutama terjadi pada profesi-profesi yang memiliki kemiripan atau mengelola bidang yang sama. Pergesekan antar profesi ini biasanya sering dirasakan dalam penerapannya di dunia kerja. Persaingan antar profesi yang sebenarnya berawal semata-semata hanya untuk menunjukkan eksistensi diri profesi seringkali menjadi latarbelakang dari masalah tersebut. Apabila hal ini terus dibiarkan terjadi, bukan sebuah kemenangan profesi yang akan diraih akan tetapi justru kepicikan profesi. Pengembangan yang mustinya dikembangkan sebuah profesi, namun justru membuat spesialisasi yang mempersempit ruang gerak profesi itu sendiri. Hal itu bahkan sering berakhir dengan kehancuran public trust terhadap profesi tersebut. Tentu saja ini sangat disayangkan.

Setiap profesi memiliki keunggulan yang tidak bisa digantikan oleh profesi yang lain. Masing-masing profesi memiliki keunikan yang khas, yang menjadi identitas profesi dibandingkan profesi yang lain. Namun perlu disadari bahwa pada beberapa area, setiap profesi memiliki kemiripan dan kedekatan hubungan yang luar biasa yang sering dikenal sebagai area abu-abu atau grey area. Pada wilayah ini setiap profesi merasa memiliki kemampuan dan hak untuk menjalankan praktek profesinya, sehingga seringkali area abu-abu menjadi daerah yang sering diperebutkan. Paradigma perebutan wilayah seperti ini harus dirubah menjadi paradigma baru yang lebih konstruktif, yaitu menjadikan daerah abu-abu menjadi area of common interest.

Bila kesepakatan antar profesi yang memiliki kemiripan ini dapat menangani area of common interest ini dengan baik, kehidupan bersama profesi- profesi tersebut akan lebih mulia dan dimuliakan oleh masyarakat. Area of common interest perlu dikembangkan bersama-sama secara sinergis dan kompetitif ke arah yang positif. Area ini juga menjadi perangsang bagi profesi-profesi tersebut untuk selalu memperbaiki dan mengembangkan diri untuk menjadi profesi yang selalu ”up to date”.

Sebenarnya keberagaman budaya yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia telah disadari dan dikenal sejak nenek moyang. Nilai-nilai luhur telah mewatak di antara anggota masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai moral ketimuran yang dapat dibanggakan. Adanya sikap gotong royong, saling menghargai satu sama lain, mendahulukan kepentingan bersama dan kebersamaan merupakan pola perilaku yang mendarah daging kala itu.

Keanekaragaman budaya Indonesis kemudian dikukuhkan di dalam Undang-undang Dasar 1945. Pemerintahan Orde baru bahkan menanamkan slogan Bhinneka Tunggal Ika dengan persepsi yang kurang tepat. Keberagaman yang pada hakekatnya perlu adanya pemahaman multikultural justru dibelokkan dengan munculnya monokultural. Keberagaman tersebut diharapkan tetap berada dalan satu keutuhan dan kesatuan. Untuk itu adanya keberagaman itu sendiri menjadi kabur. Dalam hal ini, ada tarik-menarik kekuatan monokulturalisme dan multikulturalisme dalam konteks pengelolaan negara. Kesatuan, di satu sisi diperlukan sebagai kekuatan dalam pengelolaan negara dan sebagai identitas nasional. Keberagaman, di sisi yang lain dapat membentuk negara. Monokulturalisme muncul dari kebutuhan untuk mempersatukan budaya yang berbeda. Multikulturalisme justru semakin kuat dengan mengedepankan kepentingan masing-masing budaya lokal.

Warisan Orba tersebut mengakibatkan munculnya budaya mayoritas. Budaya yang dimiliki kelompok mayoritas akan mendominasi posisi pemegang otoritas, sementara pemahaman akan budaya yang lain menjadi kurang. Kurangnya pemahaman budaya lain mengakibatkan sikap arogan terhadap kebesaran budayanya dan menganggap budaya lain sebagai pesaing atau ancaman. Sikap arogan yang sering terjadi dilakukan oleh kelompok- kelompok mayoritas.

masa depan, suatu keberhasilan sangat bergantung pada kemampuan seseorang mengelola “tubuh” yang beragam latar belakang demografis, termasuk di dalamnya latar belakang profesi. Hal ini akan dapat membawa ide-ide inovatif dan pandangan untuk pengelolaan. Tantangan dan masalah yang dihadapi dalam keberagaman di tubuh organisasi tempat kerja tertentu dapat diubah menjadi aset organisasi yang strategis jika sebuah organisasi dapat memanfaatkannya secara bijaksana.

Artikel ini telah dibaca 117 kali

Baca Lainnya