JAYAPURA EMAS 2024-2030

Saturday, 24 September 2022 - 21:35 WIB

4 months yang lalu

Jhon Manansang Wally : Buku JAYAPURA EMAS 2030 ( Sambungan Bab I LATAR BELAKANG )

MENGURAI DAN MERAJUT KEMBALI IKLIM KEHIDUPAN YANG DAMAI DAN BERBUDAYA

PERLU REVOLUSI MENTAL

Mengurai benang kusut memang tidak gampang. Butuh kesabaran dan ketenangan jiwa, apalagi ini bukan benang kusut biasa, tetapi “benang kusut” manusia yang punya hati, rasa dan pikiran. Karena itu kata mengurai di sini bermaksud menggali dan mencari akar permasalahan yang menjadi dasar berubahnya sikap mental dan tindakan masyarakat terhadap suatu keadaan tertentu di negeri Khena Mbay Umbay kita tercinta ini yang pada masa Pandemi Covid 19, telah banyak merubah tatanan kehidupan kita ke arah yang cenderung negatif itu.

Belajar dari catatan sejarah bahwa masyarakat di Kabupaten Jayapura ini adalah masyarakat yang baik, santun, damai dan berbudaya, sehingga memaknai adanya kondisi psiko-sosial yang kurang baik di tengah masyarakat kita ini, adalah semata oleh sebab akibat yang bersifat temporal. Apa pengertian yang terkandung di balik kata temporal? Itu berupa stressor yang bersifat sementara, bisa dari yang ringan sampai berat, bahkan seperti Badai Covid yang mengamuk di tengah- tengah angin kencang pandemi itu. Harapan dan pikiran Positifnya adalah, Badai Pasti Berlalu!!

Itulah harapan serta doa yang ingin disampaikan dalam buku ini sebagai obat sekaligus vitamin bagi masyarakat kita, agar kita tidak pesimis dan terbelenggu terlalu lama dalam suasana pandemi Covid, sebaliknya kita harus dapat segera bangkit dan bersatu tekad melawan Covid dengan cara yang benar dan efektif. Kita harus berani dan mau melakukan perubahan mindset, cara pikir, cara pandang, cara bicara, sikap, perilaku serta kharakter kita yang kurang menguntungkan kepada yang menguntungkan. Itulah revolusi mental! Justru di masa sulit ini, kita harus mampu bersatu hati dan pikir untuk menciptakan sebuah peluang bagi masa depan kabupaten ini lebih baik lagi.

Itu adalah tugas, hak dan tanggung jawab kita bersama! Bukan kita saling serang, saling baku marah, saling melemahkan, saling tuntut dan saling palang, akan tetapi marilah kita duduk bersama menyelesaikan masalah-masalah yang masih mengganjal, agar langkah kita ringan untuk dapat merajut harapan, cinta, damai, daya serta karsa bersama untuk kebaikan kita bersama, menyongsong PON, PEPARNAS, AMAN dan masa depan Kabupaten Jayapura yang lebih baik.

BAGAIMANA MENGHADAPI BADAI PANDEMI COVID-19?

Data per tanggal 4 Agustus 2021, menunjukan bahwa total jumlah kasus di seluruh Indonesia telah mencapai 3.532.567 orang, 524.011 orang masih dalam rawat-inap di rumah sakit, 2.907.920 dinyatakan sembuh, sedangkan yang meninggal dunia menembus angka 100.636 jiwa. Di Provinsi Papua per tanggal 2 Agustus 2021 sebagaimana dilansir Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, bahwa jumlah kasus Covid terkonfirmasi menembus 27.000-an, kota jayapura mencapai 1.841 kasus, sedang di Kabupaten Jayapura sebanyak 740 kasus. Angka kematian akibat covid di Papua mencapai 217 orang dan khusus di Jayapura tercatat 10-15 orang meninggal dunia setiap harinya akibat penyakit misterius ini.

Selain itu, dari 45 rumah sakit yang ada di Papua, hanya ada 16 rumah sakit yang memenuhi syarat menjadi tempat rujukan Covid, di mana ke 16 rumah sakit tersebut semuanya dalam keadaan penuh dan full antrean, sementara fasilitas, tempat tidur, oksigen dan petugas kesehatan sangat terbatas. Tentu kondisi seperti ini tidak boleh dipandang sebelah mata! Satu orang Papua meninggal dunia, setara dengan 100 orang meninggal di Jakarta. Jumlah populasi yang terlalu sedikit dengan angka kematian yang mencapai 10-15 orang per hari, adalah tanda lonceng kepunahan sedang mendekat, oleh karena itu kita semua harus segera sadar dan bangkit mengatasinya secara bersama-sama, dimulai dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang di sekitar kita!

Pemerintah telah berusaha semaksimal dan sebaik mungkin untuk mengatasi Covid mulai dari pusat hingga ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, dan untuk itu pasti kita sudah sangat berterima kasih. Namun demikian, dalam ruang demokrasi yang luas di Indonesia ini, Pemerintah juga memberi ruang bagi rakyatnya untuk ikut berpikir dan membantu program-program pemerintah agar lebih cepat tercapai hasil yang diharapkan. Dari kesadaran dan keterpanggilan itu, ijinkan penulis juga ikut memberikan masukan kepada Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Jayapura tentang tips-tips apa saja didalam upaya melindungi diri pribadi, keluarga serta orang- orang yang kita kasihi, melindungi masyarakat di sekitar kita dan akhirnya melindungi dan menyelamatkan masyarakat kita dari ancaman sakit bahkan maut yang bisa saja setiap saat merenggut nyawa kita.

Prinsip Dasarnya adalah ORA ET LABORA (Berdoa dan Bekerja)

Menghadapi sifat dan kharakter Virus pada umumnya dan Covid pada khususnya yang selalu mengalami mutasi dari waktu ke waktu, dari suhu yang dingin ke panas, dari musim yang satu ke musim lain, dari kondisi kesehatan masyarakat yang berbeda berubah, maka tentu diperlukan ilmu dasar yang kuat, namun juga inovasi serta hikmat dari kita manusia yang dilengkapi dengan akal budi serta iman kepada Tuhan Sang Pencipta. Artinya, tidak cukup jika hanya mengandalkan ilmu pengetahuan, teknologi, obat serta vaksin dari hasil karya manusia yang amat terbatas ini, akan tetapi juga harus mengandalkan kekuatan dan kuasa Tuhan yang kita Imani.

Mengenali Gejala Klinis untuk Deteksi Dini dan Pengobatan Dini

Pandemi Covid Gelombang Kedua ini, tampaknya lebih ganas dan berpengaruh pada tingginya tingkat kematian. Kondisi ini lebih diperburuk lagi oleh kurangnya informasi atau edukasi yang cukup dari orang yang berkompeten kepada masyarakat, ditambah kurangnya daya tampung maupun daya tolong rumah sakit. Hal ini tidak boleh dibiarkan lama, karena bisa berakibat lebih buruk. Kita tidak bisa sepenuhnya membiarkan atau berharap kalau sakit, maka ada rumah sakit yang bisa merawat kita. Belum tentu!

Karena itu, berkenaan dengan penyakit yang satu ini, diharapkan setiap orang, setiap keluarga haruslah memiliki kesadaran untuk dapat menjaga dirinya masing-masing. Tentu harus belajar dan mengetahui gejala-gejala sakit Covid sedini mungkin, yaitu gejala awal yang relatif masih ringan, di antaranya: hilang penciuman, sakit kepala, muka terasa panas dan tampak merah gelap sembab, kadang dengan demam, badan sakit-sakit dan atau lemah, sakit lambung hingga batuk. Bila ada satu-dua gejala dan tanda tersebut, sebaiknya kita jangan menunggu lama, bersegeralah periksakan diri ke dokter dan terutama secara proaktif melakukan pemeriksaan tes antigen dan atau PCR mandiri, guna mendapat diagnosis dan pengobatan yang tepat sedini mungkin.

Jika kesadaran ini kita lakukan, maka peluang selamat atau sembuh akan sangat besar dengan biaya yang jauh lebih kecil, waktu penyembuhan lebih pendek serta tidak memerlukan perawatan rumit di rumah sakit. Jika bisa begini, mengapa harus menunggu sampai berat dan susah? Ayo, kita mulai biasakan mengenali gejala dan tanda awal Covid, deteksi dini dan terapi dini, termasuk di dalamnya adalah banyak minum air hangat dan berjemur di panas matahari pagi antara jam 9.00-10.00!

Patuh Pada Ketentuan dan Protokol Kesehatan

Menggunakan masker secara benar, mencuci tangan yang benar, menjaga jarak, menghindari kerumunan massa, mengurangi mobilitas, serta menghindari makan bersama dalam jumlah orang yang banyak, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 16 tahun 2021 tentang ketentuan perjalanan orang dalam negeri pada masa pandemi Covid-19, sebagaimana pada ketentuan PPKM level 1-4. Hendaknya sikap dan perilaku dalam menjalankan protocol kesehatan ini, menjadi gaya (style) hidup baru kita untuk menjaga diri dan sesama.

Mengapa Kita Sangat Memerlukan Vaksin Covid?

Informasi resmi maupun tidak, berita resmi maupun hoax, yang keluar dari orang-orang tertentu, pemerintah, politisi, aparat keamanan bahkan juga dari petugas kesehatan dan atau pakar, sedikit banyak telah membuat banyak orang merasa sangat cemas bahkan menolak keras Vaksinasi Covid. Dalam hal ini, kita jangan terlalu cepat termakan informasi yang menyesatkan, karena di sana sedang terjadi perang kepentingan, perang bisnis, termasuk teror mental yang dilakukan oleh orang- orang dari kelompok tertentu.

Menurut pandangan saya sebagai seorang dokter, pada dasarnya vaksin itu dibuat untuk tujuan baik, yaitu merangsang terbentuknya kekebalan tubuh (daya tahan atau immunitas) seseorang terhadap penyakit tertentu, seperti Polio, TBC, Tetanus dan juga Corona virus ini. Metode dan bahan dasar pembuatan vaksin berbeda-beda, mulai dari virus/bakteri yang dilemahkan atau dimatikan, m-RNA, DNA, Vektor virus, dan metode subtitusi protein seperti yang sedang dikembangkan Dokter Terawan, dkk, dengan menggunakan metode subtitusi sel Dendritik yang diambil dari sel darah putih orang yang bersangkutan.

 
   

Walaupun Vaksin itu bukan menjadi sebuah keharusan atau tidak boleh dipaksakan pada seseorang atau sekelompok masyarakat, namun dalam faktanya, vaksin ini telah menyelamatkan jutaan ribu umat manusia di dunia dari berbagai malapetaka wabah penyakit tertentu. Karena itu, perlu ada informasi yang cukup tentang sejarah dan asal-usul ditemukannya vaksin tertentu, proses pembuatannya, hasil produknya, hingga dipasarkan ke dunia nyata. Demikian juga haruslah dijelaskan bagaimana cara penyimpanan, transportasi dan sampai pada SOP pemberian pada setiap orang.

Juga bagaimana menanganinya jika terjadi efek samping, seperti halnya penyuntikan obat-obat lain yang dapat menyebabkan reaksi akut (syock anafilaktik) maupun reaksi lambat. Intinya, vaksinasi itu sendiri bertujuan agar kita mendapatkan efek imunitas positif sebesar-besarnya dengan efek samping seminimal mungkin. Karena itu, sosialisasi dan edukasi yang benar, persiapan dan pelaksanaan yang benar sesuai SOP, akan dapat memberi rasa nyaman dan sikap positif masyarakat dalam mendukung program vaksinasi yang sangat penting ini.

Jenis-jenis vaksin yang beredar di Indonesia cukup banyak beredar merk dan asal Vaksinnya, antara lain Sinovac dan Sinofarm dari China, Oxford AstraZeneca, Moderna dan Novavax dari Amerika dan Eropa. Pertanyaan yang banyak muncul belakangan ini adalah: Bisakah vaksinasi kedua itu dipakai dari jenis vaksin yang berbeda dari yang pertama, demikian juga dengan vaksin yang ketiga? Dari beberapa penelitian di UGM dan luar negeri, hasilnya cukup baik, aman dan diterima.

Pertanyaan mendasar selanjutnya adalah: Apa yang sesungguhnya diharapkan dari vaksinasi itu sendiri, secara khusus terhadap Vaksin Covid-19? Maksud dan tujuan utama dari Vaksinasi Covid-19 itu adalah untuk mencapai suatu kondisi di mana masyarakat dalam satu wilayah tertentu, atau di seluruh dunia ini, akan mendapat tingkat kekebalan tubuh terhadap Covid-19 secara cukup dan merata, sehingga penyakit ini tidak lagi dapat menyebar dan atau menyerang serta menguasai manusia. Tercapainya kondisi ini, disebut HERD IMMUNITY. Herd Immunity di dalam masyarakat, baru akan dapat dicapai apabila populasi dalam satu wilayah tertentu yang mendapat vaksinasi mencapai jumlah atau prosentase tertentu.

Sebagai contoh, untuk sukses Herd immunity pada kasus Polio, maka jumlah populasi yang sudah divaksin itu harus mencapai 94%. Nah bagaimana dengan Virus Corona-19 ini? Karena masih baru, maka para ahli pun masih melakukan penelitian. Secara umum, dikatakan jika kita sudah bisa mencapai minimal 70% cakupan Vaksinasi Covid-19, maka sesungguhnya kita sudah bisa memasuki kondisi Herd Immunity terhadap Covid-19. Mencapai target cakupan vaksinasi Covid-19 sebanyak minimal70% itulah sesungguhnya tujuan dilakukannya upaya vaksinasi kita di Papua, khususnya Kabupaten dan kota Jayapura. Inilah Indikator yang lebih objektif, ilmiah serta dapat dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah untuk menyatakan kepada publik, bahwa Jayapura siap menyambut PON XX, PEPARNAS dan AMAN.

Oleh karena itu, sosialisasi yang benar dan mekanisme penyelenggaraan vaksinasi (SOP Vaksinasi) haruslah sesuai dengan syarat, standar dan etika, termasuk tenaga medis, peralatan dan obat-obat yang disiapkan untuk mengatasi efek samping akut setelah penyuntikan vaksin Covid, sehingga dengan demikian kita dapat meminimalisasi semua kemungkinan risiko terjadinya efek samping yang selama ini menjadi kendala dan keresahan di tengah masyarakat.

Yang jelas, pendekatan Vaksinasi akan jauh lebih efektif dan berdaya guna, lebif efisien dan lebih tanpa risiko kerugian material, waktu dan nyawa, dibandingkan menunggu sampai sakit dan dirawat di rumah sakit. Inilah kondisi paling ideal yang diharapkan, sehingga kita bisa terbebas dari rasa takut berlebihan, terbebas dari ancaman kepunahan serta menjadi tuan rumah yang siap menerima beberapa perhelatan terbesar mendatang di Kabupaten kita ini. Ayo berani, ayo semangat, kita pasti bisa, torang juara!

Hidup Seperti di Hari-hari Terakhir (TIME: AT THE END OF YOUR LIFE)

WAKTU adalah anugerah Tuhan yang amat berharga. Menghadapi Pandemi Covid yang masih merajalela, bagaimana dan sampai kapan, adalah misteri yang masih merupakan tanda tanya. Mungkin kita perlu bertanya: Apa maksud Tuhan membiarkan pandemi covid ini berkecamuk di banyak belahan bumi, termasuk di negeri kita Khena Mbay Umbay ini? Pertanyaan ini penting untuk setiap kita: teristimewa setiap pemimpin rakyat, pemimpin adat, pemimpin agama, pemimpin keluarga dan pemimpin-pemimpin lainnya. Tidak ada yang tahu, apakah kita akan tetap hidup dan selamat melewati masa-masa sulit yang belum pasti ini? Semuanya masih misteri untuk Anda dan saya!

Karena itu di masa-masa seperti ini, adalah baik, jika kita mau kembali terpekur merenung makna waktu itu bagi kita sekali lagi. Kita harus berani menanggalkan ego serta ambisi berlebihan, meninggalkan perilaku dan sikap lama yang kurang berkenan di hati suami, istri dan anak-anak, di hati orang tua, di hati rakyat, di hati pasien-pasien, di hati murid atau guru, di hati para karyawan atau buruh kasar kita, di hati masyarakat adat dalam kampung kita, ataupun di hati jemaat dan umat kita.

 
   

Mungkin kita harus melakukan rekonsiliasi kembali dengan Tuhan Sang Pencipta sebagai pemberi Waktu itu. Kita perlu bersujud sekali lagi, melakukan introspeksi diri, pertobatan diri, pertobatan keluarga, pertobatan di tingkat kampung dan pertobatan secara massal, sebelum kita masuk ke dalam kehidupan baru, yaitu: seperti waktu di hari hari terakhir kita, yaitu hidup dan bernapas dengan pertanyaan di dalam hati: “Apakah setelah saya mati sebentar atau besok atau minggu depan atau kapan itu, saya akan masuk Surga atau Neraka?”

Dalam pertanyaan seperti itu, maka biasanya orang lebih dapat memahami akan dirinya dan berusaha secara sungguh-sungguh untuk hidup lebih baik, lebih bersih, dengan hati yang tulus, mawas diri, berpikir dan bertindak baik dalam segala hal, serta hidupnya di dalam takut akan Tuhan.

Seseorang di saat-saat terakhir hidupnya, ia akan berusaha menjadi yang terbaik dalam iman dan perbuatan, sebelum pergi untuk selamanya meninggalkan dunia fana ini dan beralih memasuki Ruang Maha Kudus Allah Sang Pemberi Waktu. ( BERSAMBUNG )

Artikel ini telah dibaca 297 kali

Baca Lainnya