Dr. Nahor Nekwek Kabupaten Yalimo

Monday, 24 October 2022 - 11:20 WIB

3 months yang lalu

Dr. Nahor Nekwek, FIRMAN TUHAN ( 4 )

Saat dalam penerbangan baru-baru ini, saya melihat seorang ibu dan anak-anaknya yang duduk beberapa baris di depan saya. Sementara anaknya yang balita asyik bermain sendiri, sang ibu menatap mata bayinya yang baru lahir, tersenyum padanya, dan membelai pipinya. Sang bayi menatap balik ibunya dengan mata terbelalak penuh keheranan. Saya menikmati momen tersebut dengan sedikit sedih, karena teringat pada anak-anak saya sendiri pada usia tersebut dan masa-masa yang telah lalu.

Namun, saya merenungkan perkataan Raja Salomo dalam kitab Pengkhotbah tentang “apapun di bawah langit” (3:1). Dengan menyebutkan serangkaian peristiwa yang bertolak belakang, ia menekankan bahwa “untuk segala sesuatu ada masanya” (ay.1): “ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam” (ay.2). Mungkin pada ayat-ayat itu, Raja Salomo merasa putus asa dengan apa yang dilihatnya sebagai siklus hidup yang sia-sia.

 

Namun, ia juga mengakui adanya campur tangan Allah dalam setiap masa, bahwa pekerjaan kita adalah “pemberian Allah” (ay.13) dan bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya” (ay.14).

Mungkin kita mengingat masa-masa tertentu dalam hidup kita dengan penuh kerinduan, seperti saya yang teringat anak-anak saya ketika mereka masih bayi. Namun demikian, kita tahu bahwa Tuhan berjanji menyertai kita dalam setiap masa kehidupan kita (Yes. 41:10). Kita dapat mengandalkan kehadiran-Nya dan mendapati bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk hidup bersama dengan-Nya. ( Dr. Nahor Nekwek )

Artikel ini telah dibaca 725 kali

Baca Lainnya